2017

3/23/17

Un-Imaginable


Seringkali ketika menonton film fiksi atau animasi merasakan kebosanan. Kebosanan akut! Awalnya saya asumsikan karena prediksi-prediksi individu dan harapan-harapan alurnya, yang pada akhirnya mendikte film kedalam kebenaran asumsi tersebut. Bisa jadi itu yang pertama.

Percintaan? Tema-tema percintaan memang begitu-begitu saja, menjenuhkan. Keromantisan jaman kakek-nenek kita memang selalu dibayangkan oleh generasi praktis nan instant ini. Sebaliknya, kepraktisan model percintaan pun adalah harapan tabu generasi era oma-opa. Maka ngga pernah nyambung. Dramanya klise sehingga kurang diminati sensor otak yang butuh kebaruan.
Sci-fi? Hmmm, imajinasinya sudah dihabiskan oleh George Lucas lewat Stars War bebrapa dekade lalu, sehingga sci-fi sekarang masih 'gitu-gitu aja', kembali tak menyentil otak pikir. Horor? God Father pun adalah teror yang lebih mengerikan dari horor. Komedi? Hmm, tak ada yang lucu lagi dalam komedi fisik atau komedi satir, Forest Gump dulu pernah berhasil membaui satirsm. Para penulis komedi sekarang mungkin kalah lucu dengan idenya yang ngga lucu itu, atau lebih lucuan politik yang berkomedi.

Apalagi komedi jangkrik itu, sama sekali tak lucu sejak dari 80-an. Sudah tak lucu, tertimpa tangga sekalian, bersambung pulak! Setidaknya bagi saya.

Baru setelah mencoba-coba nonton film yang biasanya tidak ada dalam daftar menu bioskop standar, atau tidak tercantum dalam folder warnet, maka otak ini mulai sumringah kembali. Apalagi jika dalam film-film tersebut aktornya tidak dikenal, atau kultur sinemanya berbeda sekali dengan kultur sinema Holiwut, ada semacam 'jebakan-jebakan imajinasi' yang berhasil mengelabui otak ini. Film-film dokumenter termasuk didalamnya. Staffpick Vimeo, animasi Jepang sebelum era 'otak-otak', atau Holiwut dijaman Marlon Brando memerankan mafia berdarah dingin, adalah seutas pemberi nutrisi otak yang sudah kebal sinema. Serial hacking dan detectif kejahatan maya adalah salah satu list bagi yang melek teknlogi, tidak direkomendasikan bagi yang install softwares aja butuh teknisi. Pun para wanita mulai mengidolakan pria-pria dengan otak seksi tersebut.

Lalu saya menarik sebuah kesimpulan dari contoh-contoh diatas.
"Salah satu syarat kunci film bagus menurut penontonnya adalah 'un-imaginable' bagi yang menonton"

Tidak terimajinasikan dalam bongkahan otak yang menonton bagian manapun. Tidak harus sama antar penonton, karena selera dan pengalaman pikir setiap penonton berbeda. Itulah mengapa, film selalu berhasil menemukan penontonnya sendiri. Yang populer tidak musti jadi acuan, sementara yang 'hidden' dan susah dicari dipermukaan bukan berarti tidak berhasil menemukan penontonnya. Belum saja. Dalam hal ini, distribusi kepada segment nalar yang tepat adalah keperluan yang mendesak.

Jangan sampai salah menonton, apalagi salah membuatnya sebelum tahu kemana hendak 'dipergikan' produk sinema tersebut.

One Animation Studio | Sebuah 'Playgroup' animasi



Kemarin sore (21/3) saya mampir mengunjungi beberapa teman CG artist di bilangan Jakarta selatan. Hal yang sudah lama tidak saya lakukan diantara kesibukan sebagai independent animation film maker adalah, mengunjungi sebuah studio animasi yang konsen ke industri. Maka mampirlah saya ke One Animation studio secara spontan.

Selain dekat, saya juga ingin bertemu kawan-kawan Blender Army yang sudah 'mapan' dan bekerja secara profesional di Industri. Maka melalui Arif Suranto, saya pun mendapat akses kunjungan singkat. Namun, ternyata tidak sesederhana itu. Andria Nur Wahyu, senior koordinator One, menyambut saya dan Chonie dengan senyum ramah dan akrab. Ia lalu memperkenalkan saya dengan mbak Ajeng, studio manager disana, yang juga tak kalah 'friendly' dengan Andria. Secara spontan pula, saya bertemu mas Dieky Suprayogi, animation supervisor, untuk pertama kalinya (Ia adalah senior animator asal Malang, dulunya kami satu kampus di Jogja, namun tidak sempat bertemu muka, hanya via chatting). Mereka lalu membawa kami melakukan 'mini tour' keseluruh bagian studio animasi ini. Kekeluargaan dan harmonis adalah satu hal yg pertama kami rasakan siang itu.

Kami melangkahi lantai pertama studio dengan balutan senyum yang semakin merenyah. Suasanya nyaman dan sporty adalah hal kedua bagi perasaan kami. Pandangan casual kolam renang dan taman kecilnya yang rapih, menyegarkan kami diantara sekaan keringat yang siang itu dirasakan panas dari luar.
Sekilas pandang, saya berkesimpulan bahwa 'para penghuni' studio ini berbangga dengan apa yang mereka miliki disana. Dan benar, mereka sendiri yang mendisain ruangan dan menata ruang sesuai dengan keinginan dan mood yang ingin meraka bangun. Beberapa mural di tembok, setting interior, pemilihan warna, dan aksesoris didalamnya adaah citarasa dari tema perasaan sang penghuni. Belum sempat percikan suara air saya nikmati, Andria dan Ajeng lalu mengajak kami ke lantai kedua. Ruangan utama tempat berbagai produksi animasi dengan ribuan deadline mereka habiskan.

Sebuah tangga bergambar beruang di sisi tembok, adalah penyambut termanis yang seakan mewakili energi studio, pejuang tangguh.

Lalu setelah 24 fps langkah meniti tangga, sampailah kami di dalam ruangan para pejuang tersebut (dalam kacamata saya, secara spontan ruangan itu mengingatkan saya pada perusahaan game yang pernah saya bangun bersama rekan-rekan lampau 10th lalu). Puluhan talent terbaik sedang bergelut di depan workstation, dengan tempelan dan notifikasi task di sisi-sisi monitor, yang didalamnya terdapat 'wayang-wayang' virtual siap diberikan ruh dan kehendak cerita. Server dan renderfarm di pojok ruangan, berkelip-kelip LED diiringi suara kipas pengusir panas, sementara jejeran kabel LAN rapih tersisir di pojokkan dinding.

Ruang utama tersebut merupa saya dengan energi kegigihan. Mengesankan saya atas gotong-royong yang terdidik bersama dengan berbagai perintah yang akan mereka taklukkan bersama. Bukan saja berkumpul dan sama-sama bekerja, tetapi bekerjasama. Sebuah misi pekerjaan untuk mencapai visi dan mimpi dengan sebuah kerja keras yang dibumbui kecerdasan.

5 menit kemudian, kami melangkah kedalam ruang para supervisi. Saya lalu bertemu Andry Viyono, teman sekaligus pejuang awal Bender Army Indonesia, forum yang bersama-sama kami besarkan selama 7th terakhir. Ia menjadi supervisi sekaligus lead dalam team modeler di One Studio. Bisa ditebak, kelekar nostalgia kami habiskan dlm beberapa menit kemudian. Oya, saya juga dipertemukan juga dengan 'Bagong' Bagus Edi Saputra, seorang 'kiai muda' dari Surabaya (animator sekaligus teman berpuisi dalam lagu beriringan gitar bolong, beberapa tahun lalu di sebuah kafe milik duo penyanyi Endah dan Reza).
Sementara disebelah, ruangan berikutnya, kami berdiskusi dengan beberapa staff. Bertukar pikiran untuk melihat perkembangan animasi secara singkat mendatang. Tidak banyak, hanya sekilas dan dibumbui kenangan masing-masing staff, bagaimana awal mereka sampai berkumpul di studio tersebut.
Sayangnya, hembusan semilir AC lalu memanggil kantuk kami yang tertahan siang itu. Maklum saja, karena kami ke Jakarta secara estafet (PP) dalam 48 jam. Baiklah, cukup untuk sementara waktu.

...
Kami pun berpamitan untuk kembali memanjakan kantuk dan menghabiskan sore itu. Dalam beberapa diskusi dan pengamatan, saya baru sekali ini menemui sebuah studio animasi kecil (dibawah 50 org) tetapi 'cabe rawit' dan mengendarai pipeline rapih dengan kualitas animasi diatas standar service pada umumnya.

Tetapi yang terpenting disini adalah, studio dibangun dengan memfasilitasi orang-orang didalamnya. Fun, enjoy, clean, homy, dan efektif. Work hard, play hard!

Maka sepertinya saya harus ubah judul diatas:
One Animation Studio, sebuah 'playground' bagi animator.

3/17/17

Pencapaian Roda Pantura 2017 (Sementara)


Sejak pertama kali dirilis bulan Juli 2017, film Roda Pantura roda pantura masih mencari layar untuk bisa world premiere di festival-festival pilihan. Goal saya adalah, festival yang 'OSCAR Qualification'. Maksudnya? festival yang peserta/pemenangnya direkomendasikan untuk rujukan Academy Award. Tidak mudah memang, tetapi saya yakin saja.

Setelah bebrapa festival 'gagal/menolak' pada tahun 2016, berit baik terjadi di awal 2017. Sebuah email masuk ke produser saya, dan memberitahukan bahwa film ini masuk dalam seleksi festival mereka. Tidak tanggung-tanggung, festival ini adalah sebuah festival animasi terbesar didunia! Stuttgart Trick Film Festival.


Tak sampai 2 bulan kemudian, film Roda pantura juga mendapat kesempatan masuk ke ATHENS ANIMFEST, di Athena Yunani.



Bersih-Bersih Idola



Pagi ini saya sedang membersihkan file-file digital saya, baik berupa document, email, maupun spam-spam. Rutinitas bulanan yang tertunda.


Dalam sebuah pesan Linkedn saya menemukan percakapan saya dengan sutradara film Minions berdarah Indonesia, Pierre Coffin Padang. Saya lupa, waktu itu sebelum ke Perancis 2015, saya sempet iseng email beliau. Saya mengatakan, kita akan berada di event yang sama, dan saya ingin bertemu dengan anda. Tak terduga, Pierre menjawab!

"Pikir saya, mungkin ini hanya jawaban template"

Dan benar, saya bertemu beliau di festival Annecy 2X. Pertama, berpapasan sewaktu di Hotel dalam sebuah market. Kedua, dalam sesi tanda tangan dengan para fans Minions. Saya sempat berbincang sedikit, dan bertanya apakah dia bisa bahasa Indonesia?
"NO! Sedikit-sedikit bisa", katanya.

Mungkin sedikit grogi, Entah kenapa, saya tidak fokus merekam percakapan itu lewat kamera action kecil saya, dan LUPA ON RECORD! Huh...

"Dasar bocah ndeso, gumunan! hehe..."

Tapi, beberapa idola saya (mungkin juga semua animator) sempat saya abadikan secara pribadi, bukan juga we-fie sih! (LOL). Mereka antara lain: Byron Howard (Zootopia), Steve Martino (Snoopy, (Tangled & Wreck.it.Ralp), Richard William (Animation Survival Kit), William BECHER (Shaun the Sheep), Jorge GUTIERREZ (Book of life), dll.

Pointnya adalah:
Jangan berhenti gumunan dan segera kirim pesan ke idolamu, siapa tau beruntung seperti saya!


Next Goal:
Saya ingin mengirimi Hayao Miyazaki Rokok Klobot, dan tembakau Imogiri yang khas beserta cengkeh dari Manado. Siapa tahu, saya diajak nongkrong di rumah beliau atau ngobrol pakai bahasa tarzan di roof top studio legendaris, Ghibli. Semoga!
feeling blessed in Annecy.

2/25/17

Animasi Club


 

 
 
 
Animasi Club adalah Club/festival animasi, fokus kepada karya berbasis handmade/craft & eksperimental.  
Kegiatan utamanya adalah:
 
 - Menonton/Pemutaran karya
 - Diskusi & wacananya
 - Proses kreatif & konsep
 - Distribusi 
 
 
 
 
Pengantar
 
Nusantara adalah negeri artistik, tropis, dan paradoks. Keragaman suku, ras, agama, serta interaksinya yang unik dan berbeda, tentu melahirkan 
ide-ide dan pencapaian-pencapaian yang sama sekali berbeda dengan benua lain. Ikilmnya yang tropis dan kaya matahari menjadikan Nusantara 
sebagai surga warna, karakter, dan perilaku masyarakatnya. Sementara sebagai sebuah negara yang terus berkembang dari tradisional menjadi 
modern, situasi politik yang masih mencari bentuk, dan desakan percepatan pembangunan serta investasi asing, mendorong 
perilaku-perilaku paradok dan unik sebagian besar masyarakatnya.
 
Khusus dalam film animasi, derasnya genre hollywood dan jepang yang membombardir industrinya, menyebabkan masyarakat film animasi di 
Nusantara kehilangan/belum menemukan patokan-patokan dalam mengembangkan karyanya. Animasi dan karyanya selalu dipandang dalam kacamata industri dan pasarnya saja. Sedangkan ukuran-ukuran nilainya selalu dibandingkan dengan pencapaian angka/uang. Sumber daya animasinya dicetak untuk 
berpihak kepada pesanan-pesanan komersial saja. Sehingga, sadar atau tidak, menyebabkan kekerdilan berkarya animasi dengan kacamata ekspresi 
dan pencapaian artistik.
 
Dibelahan dunia sudah banyak muncul festival-festival animasi yang mewadahi seniman-seniman animasi seperti 
ini. Sebut saja Annecy, Leipzig, Cinanima, Atlanta, dll. Dalam perkembangannya hal-hal semacam ini sudah menjadi kegiatan wajib utama 
yang mendasari karir seniman animasi, bahkan menjadi sebuah industri tersendiri dan memiliki pasarnya.
 
Belum ada festival animasi di Indonesia yang murni mendasari eventnya berdasarkan hal diatas. Selalu 
dicampurkan dengan ‘perdagangan’ dan pameran-pameran industri. Sementara ruang-ruang animasi alternatif ini tidak pernah mendapat tempat 
tersendiri. Latah terjadi, banyak bermunculan studio animasi tiba-tiba memulai karya 3 dimensi, sementara dasar-dasar animasi fundamental (2D) 
belum dikuasai secara benar, alhasil letupan-letupan imajinasi cerita dan visualnya tidak tersampaikan dengan baik, atau minimal layak dilihat
secara audio atau visual. 
 

Twitter @animasiclub
IG @animasi_club
FB Animasi Club

2/24/17

Level Manusia/Bangsa (menurut saya)



Level Atas
"Ora nduwe opo-opo, tur opo-opo iso!"
(Ngga punya apapun, tetapi apa saja bisa melakukan/menguasai)

Level Menengah
"Ora duwe opo-opo, tur opo-opo nduwe!"
(Ngga punya apapun, tetapi apa saja bisa ada/diusahakan)

"Ora iso opo-opo, tur opo-opo iso!"
(Ngga bisa apapun, tetapi apa saja bisa melakukan/mengusahakan)

Level Terendah
"Kabeh nduwe, tur ora iso opo-opo!"
(Apapun dimiliki, tetapi tidak bisa melakukan apapun apalagi menguasai)

2/22/17

Investasi 'Manusia Langka'


Dalam waktu 10 tahunan ini saya bermain-main, bekerja, dan mengajar di berbagai universitas, LPK, komunitas, SMK, atau bahkan industri. Bidangnya animasi. Sebuah bidang yang membutuhkan waktu lama dalam proses pembelajaran. Baik secara skill, maupun pengalaman.


Banyak studio baru bermunculan. Banyak yang bangkrut sebelum berkembang. Hanya sedikit yang bertahan dan aktif berkarya, sedikit sekali. Ada banyak yang bertahan, tetapi 'enggan' maju dan menampakkan diri dalam ranah industri. Tidak sedkit yang ambisius, walau pada akhirnya hidup segan mati tak mau. Diantara sekian banyak problema teknis dan industri, cakupan distribusi dan keberlanjutan produk, satau yang saya cukup perhatikan keberadaaannya. Sumber daya manusia, atau kreatornya.

Saat ini tidak sedikit perusahaan besar yang mulai melirik animasi sebagai mesin meraup keuntungan. Tentu tidak salah, karena dalam dunia bisnis 'agama utamanya adalah profit'.

Apakah benar industri ini menghasilkan profit besar? atau modal besar tetapi profit minim?

Bagaimana dengan kesiapan SDM animasi, sebagai motor penggerak produksi? Lulusan SMK/kampus sudah siapkah bekerja?

Apa peranan komunitas offline maupun offline terhadap Industri animasi? Seberapa penting?

Biaya produksi animasi apakah semakin murah atau semakin mahal? Jika semakin murah, apakah dengan begitu gaji SDMnya semakin murah/murahan?

Bagaimana mengkomparasikan penghasilan/salary dengan kebutuhan pokok semakin melambung?

Sejauh apa peranan guru, dosen, pembimibing dan pengajar, balai pelatihan/diklat animasi di ranah akademik berusaha?

Apa yang sudah dilakukan perusahaan/studio animasi kaintannya dalam pengembangan SDM? Apakah mereka hanya 'menyerap madunya' tanpa ikut terlibat dalam kesiapan SDM?

Apa saja peranan pemerintah terhadap Industri ini? Bagaimana hukum lisensi softwares dijalankan?

Sebenarnya saya dan beberapa pelaku animasi sudah pernah memetakan berbagai masalah dan kemungkinan-kemungkinannya, lalu membahasnya dan menjadikkannya sebuah buku komplit. Tetapi karena perkembangan terus menerus bergerak maju, maka pertanyaan-pertanyaan diatas akan saya coba cari jawabannya, satu demi satu.

Tetapi ada satu hal yang menggelitik beberapa waktu lalu:

"Apakah industri produknya bisa kreatif? sebaliknya, Kreatif bisa diindustrikan?"

(sementara itu, produk-produk import semakin deras merajai Industri dengan berbagai kemasan menarik)

"ssslluuuuurrrrpppt.... sluprut kopi!"



...
Bantul, 22 Februari 2017

2/15/17

Manusia Custom


Ada sebuh cerita sederhana: Alkisah 2 orang sahabat yang masih sekolah, si kaya dan si miskin, keduanya tak ada masalah dengan perbedaan tersebut. Jadi inti ceritanya bukan itu.



/Cerita 1

Tiba suatu ketika mereka harus membayar uang sekolah. Si kaya tentu tidak harus bermasalah dengan uang, dengan begitu tidak pernah ada cerita SPP terlambat. Ia bisa konsen belajar dan berprestasi. Lain halnya dengan sahabatnya, di miskin.


Sebelum menuju sekolah, ibunya menyuruh si miskin untuk membawa serta sebuah bungkusan berisi makanan dan amplop serta TV 14" butut mereka, satu-satunya harta yang masih bisa diuangkan. Ibu berpesan, TV tersebut untuk digadaikan terlebih dahulu sebesar jumlah SPP, sedangkan bingkisan tersebut diberikan untuk seorang pedagang pasar. Ternyata ibu membuat makanan tersebut untuk dijual, sedang amplopnya adalah sebuah surat pengantar yang berisi permohonan.

/Cerita 2

Semasa kecilnya, si kaya dididik penuh fasilitas. Tidak pernah kekurangan gizi, bahkan mainan-mainan mahal pun tersedia lengkap. Intinya berbeda dengan masa kecil si miskin.

Si miskin tentu saja penuh kekurangan. Jangankan mainan, makanan saja seadanya, apa adanya. Nasi, sayur bayam, sambal, dan ikan layur asin adalah hidangan termewahnya. Itu pun terbatas 2X sehari.

Untuk mainan beda drastis. Mobil-mobilannya terbuat dari kotak sabun bekas (yang tak berbentuk mobil beneran). Pesawat-pesawatnnya terbuat dari kertas bungkusan tempe yang dilipat-lipat. Sedangkan layangannya terbuat dari lidi dan plastik kresek bekas belanja sayuran. Semua serba terbatas.

Singkat cerita, si kaya menjadi seorang politikus semasa hidupnya, sedangkan si miskin tentu saja menjadi, seniman!

---
Inti dari kedua cerita diatas adalah sebuah proses 2 kehidupan yang berbeda. Satu orang dididik hampir tanpa rintangan berarti, sedang yang lain penuh lika-liku kehidupan. Si miskin dididik 'secara custom'.

Untuk membayar SPP-nya saja, Ia harus melalui banyak hambatan, perjuangan, dan negosiasi dengan banyak hal (to do). Apalagi masa kecilnya dengan kotak sabun dan kertas bekas tempe itu. Bentuknya yang tak menyerupai mobil dan mainan beneran, membuatnya HARUS MENGIMAJINASIKAN benda-benda tersebut agar nampak seperti yang diinginkan. Ada usaha yang kuat untuk menjadi sesuatu (to have). Sedangkan untuk makan, Ia harus bertoleransi dengan perut, isi dompet, hingga rasa yang monoton itu. Lagi-lagi, rasa micin, sang penyedap rasa!

Jadi sudah tentu bahwa, manusia custom tersebut akan menjadi orang-orang kreatif dan pandai berinovasi. Pintar menyesuaikan jaman dan perubahan (to be). Kelak ketika memimpin, Ia lebih bisa menghargai orang lain, peduli sosial, hingga menemukan solusi-solusi perubahan menjadi lebih baik.

"Saya ternyata salah dugaan terhadap si miskin, Ia tidak benar-benar miskin. Ia kaya hati dan penuh imajinasi!"

Untuk yang hidupnya tidak custom? Ya, silakan membayangkannya sendiri.

Bantul, 15022017

2/10/17

Bagaimana karakter dan skillmu sesungguhnya?


Saat menghadapi kertas dan pensil tanpa gambar referensi, saat mengerjakan desain tanpa bantuan komputer, saat menulis hanya dengan khayalmu, saat internet tidak sedang terkoneksi.

Saat presentasi di depan kelas tanpa materi digenggam, saat berkomunikasi 4 mata dengan orang lain tanpa gadget, saat berdiskusi terbuka di warung-warung tanpa satu orang pun dikenal, saat bercerita dengan anak-anak tanpa buku panduan.

Saat bernyanyi tanpa iringan alat musik, saat berhitung tanpa kalkulator, saat mendapatkan teman baru tanpa jejaring sosial, saat menjadi orang asing tanpa satu pun mengenalmu.

Saat berwacana dengan teorimu sendiri, saat memotret kehidupan masyarakat tanpa kamera, saat memasak tanpa satu pun resep dan bahan sesuai, saat berkomitmen dengan orang lain tanpa diingatkan agenda, saat mengingat sebuah peristiwa kecil dan merasakann denyut nadimu bergejolak, saat benar-benar pikiran dan organmu berfungi menyeluruh.

Disanalah kamu akan temukan sejauh mana kemampuan sesungguhnya!


Yogyakarta, Januari 2017

Kopi & Revolusi MedSos



Manusia normal bekerjanya juga normal, gitu-gitu aja, rutinitas biasa. Tanpa zat adiktif yang bisa mendorong (booster) kemampuan otaknya bekerja, maka tidak akan lahir pembicaraan dan kegiatan revolusioner dunia. Jangan salah dulu mengartikan zat adiktif secara berlebihan, karena setiap hari dimasa sekarang kita menengguknya. Teh, kopi, dan rokok adalah beberapa contoh sering.

Source: https://jbaycoffeerevolution.wordpress.com
 Lalu apa hubungannya kopi dengan revolusi, apalagi medsos bung? Sabar!

Sejak abad kolonialis, abad 17, tradisi minum teh dimulai di Inggris. Tapi China adalah biangnya tradisi tersebut, ya karena awalnya teh hanya tumbuh disana.

Sejak saat itu populasi di Britania meningkat 50%, bukan karena minum teh, tetapi karena kebiasaannya memasak air hinggak mendidih. Secara logis daya tahan manusia menjadi bertambah, karena kuman-kuman penyakit gagal mematikannya. Alhasil, panjang umur dan menjadi sering beranak-pinak (klasik).

Namun, sejak kopi berhasil 'dicuri' dari daerah tropis, maka teh kemudian tergantikan posisinya. Kopi menjadi candu utama yang lebih hebat! Zat adiktifnya lebih giat 'memblokir' syaraf otak yang memerintahkan manusia untuk tidur. LEMBUR adalah kegiatan setelah ngopi. Cafein ini lalu menemani pembicaraan-pembicaraan para laki-laki yang lebih revolusioner. Di Paris mereka melahirkan revolusi Perancis, Eropa melahirkan revolusi industri, dan kemudian di Amerika pun demikian.

Karena kafein, adrenalin berpikir manuasi menjadi lebih gahar levelnya!

Hasil-hasil revolusi itu bisa kita lihat sampai sekarang. Berkembangnya teknologi, sains, politik, seni, dll. Sebuah PENYALURAN akibat ide-ide revolusioner tersebut HARUS terakomodir (terfasilitasi) dengan baik menjadi seperti sekarang ini.

Medsos mas medsos! Okelah kalok begitu.

Berdasarkan sains tersebut, rupanya saya teringat waktu kecil dikala orang tua saya masih sering melarang minum kopi. "Ora elok! katanya" (kurang pantas). Nah, hal ini tersambung sekarang. Karena kopi menyebabkan mata melek, kafein membuat pikiran menjadi jernih dan tubuh terpacu untuk bekerja lebih. Termasuk mikir yang nggak-nggak.

Bisa dibayangkan jika seorang anak kecil minum kopi? Nah itu.

Cilaka 13, hari-hari ini KOPI sedang marak 'meracuni' anak-anak muda. Di Indonesia pula, yang notabene kaya akan waktu luang, obrolan kencang, hingga percakapan-percakapan jalang.

Minum kopi salah? TIDAK! Efeknya yang HARUS DISALURKAN. Efek ide-ide brilian, kreatif, revolusioner, dll.


Maka adalah tepat jika seseorang mempunyai HOBBY MOTORIK untuk menyalurkannya. Jika tidak? Wah, cilaka 14! Maka kemudian muncul energi turah-turah (berlebih) yang tertuang lewat 'amuk massa negatif timeline' yang isinya lengkap, komplit itu. Utamanya Agama dan Politik. Tik!

Yang kuat dan bijak, akan membaca sambil senyum-senyum saja. Yang kurang gaul akan mudah terprovokasi, lalu balas menyerang pihak yang dianggap musuh tersebut secara verbal. Ya gitu deh :)

Maka, bukan kopi, teh, atau tembakau yang patut disalahkan dengan adanya revolusi pemikiran tersebut. Hobby adalah kambing hitam empuk.

Segeralah temukan hobbymu masing-masing, kalau sudah ketemu hajar saja! Lampiaskan hingga tuntas ide-ide brilianmu disana.

Pasti sibuk nanti! Wes toh, rasah ngeyel. Sobek-sobek! (kata Tukul)






Jawa, Saya, dan Nilai


Terlahir dan dididik dari keluarga Jawa, besar dan berproses di pulau Jawa, tidak lantas menjadikan saya 'Orang Jawa'. Sejak kecil saya memang tak asing dengan basa Jawa ngoko sampai kromo hinggil, gending dan uyon-uyon, lelaku, dan budaya orang-orang Jawa tradisional. Lantas, apakah saya puas dan sudah menjadi orang Jawa sepenuhnya? Secara fisik, hardware, ya saya akui! Namun secara cara berpikir, software, ternyata belum sepenuhnya saya lakukan/lakoni. Ternyata saya masih sangat jauh dari standar etika, filosofi, dan cara hidup seorang Jawa.

Sejak sekolah SD hingga kuliah, dari membaca hingga menulis, berhitung hingga menggambar, semua teori dan metodenya saya dapatkan dari cara-cara ilmu pengetahuan/sains modern. Buku-buku modern. Ya, cara filsuf-filsuf dunia dan berbagai teorinya sudah terlanjur tertelan, berhitung cara-cara eropa, hingga bermusik do re mi fa sol-nya musik barat, lalu selalu saja bermimpi mengunjungi tempat-tempat penting disana. Sementara, berziarah dan mengunjungi tempat-tempat para leluhur pun malas, beribu alasan, hingga berbagai kesempatan tak kunjung terlaksana, minim.

Jangankan ziarah, membabat cerita wayang ramayana pun sepertinya berat sekali, sementara ratusan bacaan & buku-buku lainnya kulahap sejak sekolah. Lebih kecil lagi, menulis Jawa saja saya tidak pernah becus! Palagi menonton pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk? Ah, seperti sesuatu yang jauh untuk diraih, namun susah untuk menyelesaikannya :(

Suatu ketika, 2012, saya beranikan diri untuk menantang diri sendiri belajar seni Wayang kulit, terutama jagad pedalangannya. Beruntung tahun itu juga, saya tercatat kembali sebagai mahasiswa seni di Bantul, sebagai mahasiswa baru lagi (setelah 5 tahun sebelumnya DO sebagai mahasiswa seni rupa). CUEK! Toh niat saya baik, belajar sebuah peradaban tertinggi dalam budaya nenek moyang Jawa. Apa yang terjadi kemudian?






Setelah berproses selama satu semester, tiba saatnya saya mengikuti ujian pertama mendalang selama 2 jam. Belum masuk lakon/penokohan. Rasanya seperti masuk kedalam 'tungku oven', keringat sebesar biji jagung, isi otak berantakan, mulut kacau melagukan tembang, naskah menjadi amburadul, hingga tertawaan penonton yang terdiri dari para dalang senior, calon dalang, dosen, hingga masyarakat umum. Isi otak saya sama dengan isi otak rekan saya yang belajar wayang dari Mexico, kami sama-sama kosong. Tetapi, saya lebih malu karena saya adalah orang Jawa! Duh, dimana kutitipkan raut muka ini? Skip...skip...skip, yang pasti adalah DO untuk kedua kalinya.

Kiamat? Setidaknya 2 jam itu Ya!


 


Meskipun hari itu saya merasa gagal++, dan mungkin menjadi pementasan pertama dan terakhir dalam dunia pedalangan dibawah blencong, tetapi setidaknya saya pernah mencobanya. Saya pernah melakoni proses proses singkatnya, walaupun hasinya 'jelek saja belum'. Jawa, menjadi pertimbangan pertama-tama dalam setiap langkah kemanapun. Namun pikiran yang terbuka dan mengglobal, tetap harus dijaga dan dikembangkan. Saya tidak pernah tahu apa makna dari semua lelakon tersebut, apa gunanya menjadi 'Jawa kembali'. Entahlah!


2 tahun kemudian beberapa hal dari pelajaran wayang dan nilai-nilainya saya terapkan dalam film animasi saya hingga bisa membawa saya kembali masuk dalam 'tungku oven' sebuah festival animasi terbesar dunia, di Annecy - Perancis. Kali ini saya dan produser menjalani semacam presentasi project di depan para audience animasi dunia, tentu tidak memakai kromo hinggil, bahasa Inggris. Mudah? Lebih susah jelas. Skip...skip.


Sepulang dari Eropa, saya lalu menata diri. Selain membawa PR besar, pun menata diri untuk mendalami nilai-nilai Jawa saya. Buku-buku kembali saya baca, pentas-pentas seni didatangi, kaset-kaset tradisional kujejalkan, kemudian diolah dan dijadikan tatanan baru dalam berproses apapun selanjutnya. Sampai sekarang? Ya! Karena semakin tinggi kau tanamkan pohonmu, maka semakin dalam kau harus siapkan akarmu. Begitu nasihat para sopir yang kutemui sepanjang Pantura kemarin.


Siapa kamu sebenarnya! Sudah menjadi Jawa? Entahlah, yang jelas bukan menjadi eropa, arab, china, amerika, atau India. Terlalu jauh dari itu semua itu, terlalu banyak waktu jika kupikirkan mereka.

"Tak akan ku teguk benar nilai-nilai lainnya, JIKA nilai-nilai yang membesarkanku saja belum sempat kuhabiskan!"


Bantul, 12 Januari 2017 - edisi kangen wayang


(Matur nuwun kagem para guru, dalang, penatah wayang, konco, lan sedaya ingkang sampun mulang sabar wonten ing jagad pewayangan)

Hayao Miyazaki - Masa Depan Animasi



Wawancara John Lasseter bersama Hayao Miyazaki tentang masa depan animasi dan soal computer grafis dalam animasi.

JOHN: Where do you see the future of animation drawing going?

MIYAZAKI: As long as there are people who are doing hand drawn animation, I think will continue to exist.

Both pencils and computers are tool to make our stories. even though the pencil might be an old tool, it is still a tool and we can still use it.

so as long as the tool can be used, I think it will be a way to draw animation.

---


I had an illusion about computers. I thought that computes would do the tiresome tedious work of drawing that we didn't want to do.

I realized that was a mistake, and that actually people were using the computers to event more tiresome things that made it tiresome for us later.

The computer can draw with a certain exactitude, and then we exactly as the computer does.

So the computer methodology enters our brain, and the animators who weren't that good to start with get lousier and lousier in drawing.

I want to take that the computer out of our brains and just be able to draw what we see with our eyes, so I disbanded the computer graphics section.

I tell my animators now, don't worry about how many pages of animation you're drawing, don't try to limit yourself. Event if we draw many, many pages, we still save not having to buy another computer.

Of course we use computers for camera work that we do, and they are coming up with all kinds old techniques to make things look better.

I said we got rid of our computer graphic departement, but it's not that I fored everybody, those people who wanted to move to other sections, moved to the other sections of the studio.

2/8/17

Sound FX dan Imajinasi Bercerita


Dalam bercerita orang di Indonesia seringkali menggunakan 'efek suara khusus' untuk menguatkan/mendramatisir ceritanya. Biasanya menirukan bunyi-bunyian yg mereka ingat dengan kata-kata. Itulah cara bertutur yang luar biasa!
 
Contoh orang bercerita di Jogja:
Mak jegagik! (kaget), Mak bedunduk! (tiba-tiba), Brrrukk! (kejatuhan/jatuh), Cethaaarrr! (Pecutan/ledakan kecil), Thaass! (mengenai sasaran), Ssseettt... (berlalu), Lheerrrrr!! (ledakan), Beeeet! (memukul), Krompyaaang... (Barang berjatuhan), Dooorrr! (tembakan), Kloothaak! (benda kecil jatuh), Krinciing... (duit recehan jatuh), Sreeenng.. (gorengan), Haak, Jleb! (menusuk), Huuuh...haaah! (Kepedesan), Jossss.. (benda panas dimasukan ke air), Byuuurr! (jatuh ke air), Ciiittt! (ngerem mendadak), Gdebug! (jatuh), Wuusss! (heran/gumun), Wes..hewes..hewes.. (Bablas angine), Crruuut! (air keluar), Crrriittt! (air keluar sedikit), DLL.


Image: Mr Long's Travelling Cinema by Hoang Manh Cuong - Vietnam Documentary Short Film | Viddsee

Animasi-mu Sampai Dimana?




Warning: Tulisan hanya anekdot santai, boleh dianggap serius tapi sambil rileks
 
Animasi jepang sudah sampai hent**, dan aku/kami masih asik jalan ditempat. Nyervice kerjaan orang lain, kecapekkan mikirin klien, sementara itu lupa mimpi-mimpinya, lali idealisnya dulu!

Sibuk belajar softwares, ngoprek apapun yg ga penting, lupa dasar bercerita, terlalu terbebani dengan moral bangsat karakter lokalan, budaya mbah buyut. Baru mau tumbuh ditebas, sedang semangat diludahi, lagi asyik disemprot, sudah tayang dianggap murahan, baru mulai percaya diri dikrecoki, dapat kerjaan bergaji minim lalu habis bayar kreditan, dikasi posisi malah jadi makelaran, gak dapat proyek akhirnya nyalahin pemerintah apalah, gagal merantau pulanglah bangun gerobak jualan, dipaksa kebutuhan!


 

... {ting..tong!} *muncul pop-up gambar saru kerjaan ditunggalkan, tutup pintu kamar, pasang headset, ..., Kecapekan, ngorok dan ngiler, esoknya dikejar dateline baru !!! Dan tetap jomblo, kehabisan cairan, dehidrasi. ... [repeat]




Tembang dalam Animasi 'RODA PANTURA'


Ide tetembangan ini muncul ketika tiba saat mendisain musik dan sound untuk film animasi 'Roda Pantura'. Musik ilustrasi untuk memperkuat cerita secara audio. Kalau didalam Wayang ada istilah 'Nyandra', maka tetembanang ini adalah suntikan nyawa film secara audio. Isinya adalah syair yang menggambarkan kisah yang sedang melanda karakter.





Tembang ini dibuat syairnya oleh teman saya yang sangat berbakat dan masih konsen nguri-uri kabudayan Jawa, Nur Hidayat (Nung Bohnam). Ia adalah teman satu kelas saat saya belajar seni grafis di ISI yogyakarta, aktif sebagai perupa, penyair, dan bermusik.

1) PANGKUR
Dhuh nimas pujaning driya
Lilalana pun kakang arsa pamit
Aywa sira tansah ngungun
Lunganingsun mbudidaya
Murih gesang lumaku sak lumprahipun
Tan kirang boga lan wastra
Kulawarga girang yekti

*Mengambarkan haru seorang suami yang akan berangkat kerja untuk waktu yang lama, sekaligus meminta doa dan restu istri.

2) ASMARANDANA
Dhuh kangmas pujanin ati
Kangenku tanpa kinira
Kongsi gusis bebasane
Luh tumetes nirantara
Dangu estu ndika mendra
Saben wayah mung angrantu
Ati bingung bilunglungana

*Menggambarkan kerinduan istri kepada suami yang tak pulang-pulang. Bathin yang tersiksa rindu dalam waktu yang lama. Menangis.


3) KINANTHI
wayanganmu hangreridhu
Anggugah bramantya mami
Temah guncang lir kabuncang
Jro jurang sepi sayekti
Nadyan kebak wewayangan
Rerupan edi mawarni

*Menggambarkan sebuah penantian seorang istri

SKRIPSI DALAM BAHASA CASUAL


Sebenarnya ini tidak serius amat, bukan sesuatu yang urgent ditindaklanjuti secara akademis (Apalagi ide ini keluar dari saya yang tidak pernah menulis skripsi di kampus, dan DO (drop out) 2 kali dari kampus seni di Jogja).

Sepintas kemarin, gegara gerimis mengundang di sepanjang Malioboro nan khusuk, sambil melihat para mahasiswa nongkrong di Nol KM, tulisan ni terlintas. Ide saya sederhana saja:

"Apa yang terjadi seandainya banyak paper dan skripsi (yang notabene berbahasa akademis santun dan EYD itu) ditulis dengan bahasa yang lebih rilek nan asoy (casual) ?"

 

Bahwa skirpsi adalah tersangka sebagai biang penyebab 'kemacetan lulus' di perguruan tinggi di Indonesia, itu seperti sebuah ‘kutukan abadi’. Peng-kambinghitam-an turun-temurun itu muncul jika pertanyaan ini dilontarkan ke mahasiswa:

    "Kapan Lulus?".

    Jawaban idemnya selalu saja:

    "Sebentar lagi, tinggal skripsi masbro".

Hmm, absurd sekali! Jawaban ini bisa berarti bahwa skripsi BELUM DIMULAI. Atau sudah selesai kuliah tapi malas mengerjakan, dan rentetan jawaban pembenaran lainnya. Bisa diplesetkan menjadi "SKRIPSINYA DITINGGAL" atau bahkan belum mau memulai skripsi sama sekali.

Rata-rata alasan yang saya dengar dari teman-teman mahasiswa adalah SUSAH MENULIS skripsi. Apalagi dengan bahasa baku ala "Badudu". Belum lagi intimidasi footnote dan daftar pustaka yang menandakan penulisnya "ngakademis" alias mengutip pemikiran-pemikian buku. Maka harus rajin baca buku.

Pengajuan proposal dan judul juga berbelit nan panjang, mirip kereta barang. Dosen pembimbing yang mulai 'nge-pop' dengan jadwal 'pentas kelilingnya' yang panjang, hingga susah ditemui bak selebriti. Belum lagi bayangan riset yang harus dilakukan ketika proposal disetujui. Lalu tiba-tiba seorang teman mengetuk pintu dan berkata:

"Santai masbro, dipikir karo udud! Ngindomie yuk?"

... dan, wuusss! (seketika sang calon sarjana itu menghilang dibalik warung)

BUDAYA NONGKRONG

Banyak mahasiswa justru belajar secara akademis tidak saja dikelas. Di jogja sebagian besar waktu mereka (baca: mahasiswa) adalah berdiskusi di angkringan, burjonan, bahkan sepanjang trotoar malioboro. Ini menarik menurut saya.

Seorang teman dari utara Amerika, Kanada, pernah membuat sebuah tesis menarik yang isinya kurang lebih membahas tentang dampak (sakti) 'nongkrong' terhadap kreatifitas di Yogyakarta. Topik ini dipilih karena selama menimba ilmu di Jogja, Ia mengamati perilaku mahasiswa yang waktunya banyak "dilampiaskan" untuk nongkrong.

Nongkrong disini tidak selamanya bersifat konotatif. Karena kebanyakan nongkrongnya bareng mahasiswa juga, maka yang terjadi adalah diskusi mirip dikampus, dikelas, bedanya SKS-nya lebih dari 6. Diskusi menjadi hidup diiringi asap kopi joss, disaksikan secara bisu oleh gorengan dan dimeriahkn oleh nasi kucing. Hingga larut menjelma menjadi fajar (halah).

Kembali ke ulasan bahasa skripsi. Saya lalu berimajinasi, jika saja cara penulisannya bisa bebas, artinya tidak terikan bahasa yang terlalu kaku, maka bisa jadi skripsi akan lebih menarik dikerjakan, ngepop istilahnya.

Lalu tulisan "ngilmiah" tersebut dimasukkan dalam blog, di-online-kan, dan dibaca banyak orang. Hal yang sering saya temui di kampus adalah, banyak skripsi tertimbun bak harta karun di perpustakaan kampus atau gudang arsip, bersemayam bersama rayap-rayap kelaparan, jarang atau bahkan tidak pernah disentuh atau dipublikasikan ke publik. Sayang sekali!

Jika bahannya menarik saya pikir banyak penerbitan antri untuk mencetaknya dalam bentuk buku. Yah, minimal berhasil berlomba diantara buku-buku di toko sekarang, yang rata-rata bagus dan manis bungkus covernya saja. Isinya? Belum tentu seindah bungkusnya!

SUSAH MEMULAI?


Tak ayal, memulai sesuatu memang butuh energi besar. Kebanyakan kesulitan menulis, ada sejak langkah pertama. Momok setia yang menghantui penulis skripsi. Katanya.

Beda halnya menulis ratusan kata dalam timeline facebook> Lancar! Apalagi menkritisi politik dan media abal-abal. Ketikkannya bisa secepat kilat dan hanya butuh 11 jari saja. Alias jempol-jempol itu.

Menurut buku "Menulis Secara Populer" terbitan Pustaka Jaya:
-- teknik berbahasa itu berubah dari masa ke masa. Manusia berubah, budaya berubah, dan teknik berbahasa pun berubah menurut zaman --

Bisa jadi bahasa seperti ini pun akan segera tergantikan oleh jaman yang berbeda. Gaya penulisan bisa juga sebagai penanda jaman.

Bukankah menulis sama halnya dengan berkomunikasi? Jika inti dari komunikasi tersebut tidak tercapai atau gagal paham, bagaimana dong?

Baiklah, sekali lagi ini tak terlalu penting, gaes! (hoam)

---

Teruntuk: Para skripsiwan dan skripsiwati, jangan baper ya