4/12/12

4/7/12

UWA | The Making of




UWA and The Indonesian Jungle adalah animasi (TV series) besutan HICCA Studios, Jogja. Awal Maret saya sempat bergabung di produksi Opening sebagai project manager selama satu bulan. Tugas saya adalah mengkoordinir team animator (pipeline, jadwal, teknis, dll) sekaligus membantu mereka berpindah ke software Blender sebagai pipeline utama. Sangat menantang! Silakan nikmati proses kerjanya ;)

3/30/12

Wawancara Tabloid Komputek



Suatu kehormatan bagi kami bisa mewawancarai Mas Hiza untuk pembaca Tabloid Komputek. Sebelumnya, Dapatkah Anda pertama kali memperkenalkan diri kepada kami dan menceritakan secuil cerita kepada kami bagaimana Anda terlibat dalam dunia animasi?

Terimakasih sebelumnya, saya merasa terhormat. Awal karir saya dimulai tahun 1998, setelah menyelesaikan pendidikan desain grafis dengan bekerja sebagai desainer packaging. Lalu setelah 2 tahun saya kuliah lagi di ISI Fakultas Seni Rupa, mengambil mayor Seni Grafis. Selama menjadi desainer dan malang melintang terlibat dalam industri percetakan, saya merasa jenuh. Kebetulan sejak kecil saya suka menggambar, bermain musik, berorganisasi, drama, menulis puisi dan
cerpen, elektronika, dan segudang aktifitas motorik lainnya. Akhirnya saya berpikir ulang tentang sebuah karir baru, Animasi.

Awalnya ragu karena saat itu belum saya tidak banyak menemukan teman di wilayah tersebut. Singkat cerita saya merasa ini adalah dunia baru yang menantang, semua hobby saya menjadi tersalurkan di Animasi (2004). Saya segera 'memburu' ilmu dari berbagai sumber. Cukup lama belajar, dan pada akhirnya tahun 2007 bersama teman mencoba merintis karier menantang di Jakarta, mendirikan game developer. Pada tahun itulah petualangan dimulai. Asik dan menantang.

CHIP: Edisi 3D Animasi



Ceritakan awal mula berdirinya komunitas Blender, dimana, kapan, dan siapa saja
pendirinya?


Sejarah Komunitas Blender Indonesia
Sebelum adanya Blender Indonesia ORG, banyak komunitas atau individu yang rata-
rata adalah pelaku animasi membuat blog atau situs sendiri-sendiri. Tidak ada kesatuan
didalamnya sehingga mempersulit proses pertukaran informasi dan akses pembelajaran,
dimana kondisi tersebut terjadi sekitar tahun 2007-2009.

Lalu pada di awal bulan Agustus tahun 2009, berdirilah Blender Indonesia ORG dengan
pendirinya adalah Subiyantoro (dikenal dengan nickname HizaRo di komunitas Blender
Indonesia ORG). Dengan memanfaatkan relasi dan social networking Facebook, Blender
Indonesia kemudian menjadi cepat berkembang dan dikenal oleh banyak komunitas, dan
anggota baru bermunculan setiap hari dan menyambut baik atas kehadiran forum ini,
dengan misinya saat itu adalah komunitas Blender yang bersatu.

Selang 2-3 bulan sejak peluncuran perdananya, lahirlah [dot]BlendMagz, majalah Blender
Indonesia yang terbit 2 bulan sekali dan bisa di-download secara free tersebut, merupakan
dokumentasi karya dan event-event komunitas Blender dan open source.

1/11/12

Cultural Glitch: Hiza Ro, Animation Community Captain


Blender is a local online community dedicated to documenting the ever-increasing number of talents in the local animation scene. We spoke to co-founder Hiza Ro, a dedicated animation buff who is also known as “Captain Blender,” about the trials and challenges faced by animators in Indonesia. 







How far has the culture of animation developed in Indonesia?


The culture of animation in Indonesia is, I think, getting better and experiencing significant growth. Modern [animation] hardware and software are also resulting in increasingly sophisticated animations. Although the influence of Japanese and American animation is still prevalent, I'm certain that one day characteristically Indonesia animation will be created. And yes, it will be a long process that requires the support of the government.



How are our local animators faring globally?


Our local animators and many others from Southeast Asia are now inviting the interest of many international animation studios. There is just an abundance of talents, who gather as online communities, producing healthy competition and quality work.




Who and what are some of our standout animators and animations? 


The answer to that would be subjective. In general, there are a lot of talented animators in Indonesia, but their performances still have a lot to do with their team. These last five years, the best work seems to have come out of the television advertising field, although there are also a few short- and long-form animated films starting to crop up.


Are there certain uniquely Indonesian traits that you’ve seen pop up in local animations?


In general, Indonesia's cultural diversity is very influential in the creation of the characters and stories. Although it has yet to settle on any specific form, slowly but surely Indonesian animators are getting richer in their variable stories and design.




What are the challenges faced by local animators?


There is still a lack of quality education regarding the professional production process. Animation is part of the [entertainment] industry, and we need to learn about competing, especially globally. There is still a struggle in the production, legal, promotional and marketing side of the industry, which has not been explored properly. Many of our animators are working as freelancers for various overseas companies, because in our own country, animators are still regarded as ‘cheap’ in value.




What kind of things can we achieve through animation, if it is taken more seriously?


A lot can be achieved if the industry is taken seriously. Some of the more serious animation studios here, in fact, have worked on a variety of local and internationally produced series. In the future, I think we can expect an improvement in the field of television commercials, visual architecture and games.

Source:
http://www.thejakartaglobe.com/blogs/cultural-glitch-hiza-ro-animation-community-captain/471827

7/18/11

Animasi 3D: Sebuah Awal Menuju Dunia Imaginasi Tanpa Batas


Sponge bob kembali dari istana negara. Ia baru saja mendapat undangan makan siang dari SBY. Mendarat di lapangan monas dengan kapal titanic dan dikawal oleh pasukan berkuda para dewa yunani. Sesampai dirumah, ia kemudian berkunjung ke jaman para nabi. Berdiskusi dengan Musa, ikut menyebarkan dasa titah. Keesokan harinya, ia sudah melancong di kawasan mojokerto. Misinya kali ini adalah menyelamatkan situs Trowulan dari pencuri benda purbakala. Ini dilakukannya semata-mata karena nenek moyang sponge bob adalah raja Brawijaya V.”

Animasi dan Imajinasi

Bayangkan jika dunia tanpa imajinasi. Mungkin tidak akan ada peradaban. Bisa jadi dunia hanya sebuah citra gelap dan rutinitas siang malam. Statisme perubahan tanpa kebaruan lagi.


Imajinasi adalah kekuatan menghasilkan ide. Sebagai proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian (wikipedia). Ide biasanya diwujudkan menjadi citra (gambar) dan diolah sedemikian rupa menjadi sesuatu. Seorang seniman menghasilkan ciptaan dari proses pengendapan ide yang muncul dari imajinasi dan proses lainnya. Kemudia ia mencoba mempresentasikan dalam bentuk gambar (sketsa) sampai akhirnya menjadi terjemahan visual. Lewat media yang ia kuasai, imajinasi dalam ide visual tersebut diproduksi sesuai konsep. Konsep inilah yang mengandung pesan dan kemudian dikomunikasikan secara visual dan mempunyai daya ubah terhadap sesuatu.


Gambar: Scene film animasi Cloudy with a Chance of Meatballs (2009)

Gambar: Scene film animasi Cloudy with a Chance of Meatballs (2009)

Terlepas dari teknis dasar, animasi adalah media. Media untuk mengubah sesuatu, dari sebuah imajinasi, ide, konsep, visual, sampai akhirnya memberi pengaruh kepada dunia (penonton). Tidak ada pembatas dalam dunia animasi. Semua imajinasi, baik berupa kisah nyata, fiksi, bahkan fantasi radikal, BISA dibuat dalam animasi. Ia tak ubahnya alam pikir manusia, tanpa batas, ruang, waktu. Hanya ‘dibatasi’ oleh imajinasi si penciptanya sendiri.

Dalam kontek waktu, animasi bisa menjadi ‘mesin waktu’. Mempresentasikan dunia lampau atau masa depan. Bisa juga melompat dari waktu ke waktu, jaman ke jaman, sekali lagi tidak ada batas. Bebas!

...selengkapnya di Slide Share :)

1/3/11

Blender - Vertex Painting




Tutorial sederhana ini menjelaskan penggunaan vertex painting sebagai alternatif texturing. Dalam hal ini kita tidak memerlukan software external pengolah image semacam GIMP atau MyPaint. Obyek langsung diberi material dengan menggunakan brush dalam mode vertex painting. Simple, cepat, dan mudah digunakan. Sebagai akhir, texture di Unvrap dan BAKE untuk diterapkan menjadi UV texture.

DOWNLOAD: http://www.4shared.com/file/J3nf4Trx/ice-cream.html