JARAK MEKANIS & HUMANIS

10/3/13

JARAK MEKANIS & HUMANIS



Seringkali kita lupa waktu ketika sudah menemukan sebuah kesenangan atau hobby. Biasanya porsi waktu menjadi berlebihan. Siang menjadi malam, malam menjadi siang, sampai akhirnya sebuah titik jenuh menghampiri. Produktifitas menurun, bosan melanda, dan akhirnya waktu terbuang percuma.

---
Teman saya sangat menyukai animasi. Ia tekun sekali menggali banyak informasi dan berlatih setiap hari. Kadang-kadang bisa lebih dari 10 jam, atau bahkan 24 jam tanpa henti. Hal ini dilakukan setiap harinya secara berulang-ulang. Lambat laun kesenangannya tersebut menjadikannya seorang ahli. Bisa ditebak, Ia kebanjiran order secara berkala. Ia senang karena hobbynya ada yang mengapresiasi, dengan uang tentunya.

Suatu ketika, Ia menemukan banyak teman yang menekuni hobby yang sama. Sampai akhirnya mereka membentuk sebuah komunitas. Singkat kata Ia mendirikan sebuah studio animasi untuk lebih melebarkan sayap bersama rekan komunitasnya. Istilah kerennya, start up.

Layaknya sebuah kantor kreatif, kini jam kerja dan berbagai peraturan mulai didisiplinkan. Mereka membuat banyak kesepakatan bersama antar teman. Sampai akhirnya beberapa order berkala mulai berdatangan. Nilai kontrak kerja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Dan ikatan disana-sini mulai terbentuk, terutama kesepakatan dengan pemberi job (klien).

Dateline mulai berlaku, kesempatan bermain-main mulai terbatas. Waktu senggang jarang sekali terjadi, apalagi waktu tidur, makin berkurang. Setiap hari yang ada hanyalah bekerja dan bekerja, menyelesaikan berbagai pesanan. Kadang-kadang terjadi penumpukan pekerjaan yang menyebabkan distribusinya terlambat. Satu persatu klien mulai protes dan akhirnya penurunan kualitas mulai terjadi. Kreatif membuat sibuk dan sibuk membuat tidak kreatif.

Masalah mulai berdatangan, satu demi satu menghampiri mereka. Dari urusan manajemen, disiplin waktu, pembagian shift kerja, hingga masalah finansial. Bisa ditebak, komunikasi yang seharusnya semakin baik dan meningkat justru semakin jarang. Evaluasi demi evaluasi terbelenggu masalah hati, tidak enakkan, tegur sapa menurun, sampai akhirnya klien mulai menjauh. Belum lagi tunggakan listrik 2 bulan, tunggakan bunga bank, modal yang semakin menipis, dan masalah tetek bengek lainnya. Suatu ketika, studio mereka bubar dalam keadaan tidak jelas.

Belakangan ada kabar dari seorang teman bahwa salah satu dari mereka memilih untuk pulang kampung dan bekerja serabutan. Hobbynya kini menjadi sebuah momok.
---

Ada perbedaan antara bekerja sesuai keinginan dan bekerja atas tuntutan/kepentingan profesional. Banyak dari kita menganggap bekerja sesuai kesenangan/hobby adalah yang paling sempurna. Untuk awal memang IYA. Namun bukan berarti aturan mainnya sama. Dari ilustrasi diatas terdapat banyak pelajaran, jika disimpulkan dalam satu kata yang tepat adalah manajemen. Manajemen team, keuangan, waktu, modal, klien, dll.

Saya tidak akan membahas mengenai manajemen, karena belum layak bercerita soal itu. Saya hanya ingin membahas masalah JARAK dalam sebuah pekerjaan atau hobby. Jarak disini mengenai sebuah ruang (space) yang memisahkan sementara antara pekerjaan/hobby dengan kehidupan diluar itu.
Salam sebuah hubungan pertemanan atau keluarga kita sering mengalami. Ketika tidak sering bertemu dengan teman atau keluarga kadangkala kita merasa kangen dan merindukan lagi pertemuan tersebut. Ya, itu yang saya maksud. Sebuah jarak yang bisa dikendalikan untuk menyegarkan kembali isi pikiran dan bathin guna meningkatkan produktifitas.

Itulah kenapa jam kerja kantor biasanya sekitar 8 jam setiap hari, istirahat minimal selama 1 jam. Karena otak kita butuh istirahat seperti layaknya komputer butuh di restart atau shut down. Jika terdapat sebuah pekerjaan yang belum rampung, biasanya diadakan lembur, pun membutuhkan istirahat sebelum memulai lembur. Waktu yang ideal untuk lebur maksimal 3 jam. Setelahnya kita membutuhkan refresing total dengan melakukan rutinitas lain atau tidur minimal selama 8 jam sehari.

Kreatifitas ternyata tidak saja dibutuhkan dalam hal mencipta atau mencari ide saja. Kreatifitas dalam hal manajemen dan pemilihan aktifitas juga diperlukan. Seperti halnya pola makan yang beragam cenderung mengatasi kebosanan, sehingga selalu tampak segar dan bersemangat melakukannya.

Begitu pula kesenangan/hobby, butuh jarak untuk menyegarkan kembali kreatifitas dan inovasi, sehingga tidak menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Sesuatu yang berlebihan cenderung tidak baik dan lebih cepat untuk ditinggalkan. Sesuatu yang cepat cenderung lebih cepat pula untuk berhenti. Maka dalam prosesnya kita butuh yang namanya manajemen kreatif. Kreatif apa saja.

Profesi juga terkadang tidak selalu berhubungan dengan imbalan uang. Ada kalanya manusia hanya butuh untuk dipuji, diperhatikan, dan diapresiasi saja. Maka dari itu kita butuh komunitas atau sosial tertentu untuk mendukung hal tersebut. Berbeda dengan industri yang tidak mau tau mengenai prosesnya, cenderung untuk cepat dan mekanis dengan hasil memuaskan. Perbedaan paling mendasar dari manusia yang humanis dengan mesin/robot yang mekanis.

TIPS:
Jika Anda sudah lebih sering melakukan sebuat pola tertentu dalam berkegiatan, bisa jadi Anda mulai terbentuk untuk mekanis. Ini sangat bertentangan dengan sifat dasar manusia yang sebenarnya tidak selalu teratur. Coba “ruangkan” atau jaga jarak antara waktu yang mekanis dan humanis. Bertemu dengan orang baru dan traveling merupakan sebuah cara yang cukup baik untuk menghindarinya.

2 komentar :

prima said...

wah keren mas tulisanya ... menginspirasi dan mengingatkan sebelum beranjak ke start up (istilah kerenya)

Kuro Maru said...

terimakasih mas, sangat menginspirasi :) salam seduluran