9/29/10

Blender dan FOSS


Mindset baru Dunia Animasi

Sebelumnya selamat merayakan Software Freedom Day tgl 18 September 2010.
Dalam hemat saya event ini saya kunyah dengan penekanan pada level Festival, atau sering disebut sebuah perayaan. Maka jika di artikel dengan cepat SFD berarti adalah sebuah perayaan kemerdekaan oleh pelaku perangkat lunak (software). Kata lain yang lebih besar dari perayaan adalah sebuah kebangkitan kebangunan rohani. Jadi mari kita mulai perayaan ini dari hati dan rohani kita, bukan saja fisik/jasmani yang diluar tampak begitu manis, namun didalamnya ‘atis’ (dingin;jawa).



Tidak perlu lagi di bahas apa itu definisi FOSS dan apa manfaat yang ada dengan menggunakan FOSS secara sinergis. FOSS akhir-akhir ini menjadi kata kunci bagi sebagian besar masyarakat Linux dengan program pemerintah IGOS. Digulirkan sekitar 2 tahun lalu dan kini menjadi komoditas penting tuntuk dilakukan dan disosialisasikan bersama dengan komunitas didalamnya. Hari-hari para user semakin penuh diisi pembelajaran FOSS. Tidak terkecuali komunitas animasi FOSS, Blender Indonesia.ORG. Tepat setahun yang lalu komunitas ini berdiri dan menjawab kegelisahan banyak seniman digital yang sebelumnya ragu untuk belajar bersama Blender khususnya, dan software pendukung animasi umumnya.

POLA PIKIR FOSS
Terminologi FOSS menjadi banyak perbincangan di berbagai forum dan komunitas. Terutama menyoal analogi yang selalu diartikan ALL FREE, atau gratis, atau tidak perlu membayar.Ironis karena maksudnya free adalah sebuah kebebebasan (freedom), dan kebebasan berbicara masalah inovasi. Bukan saja menggunakan, namun mengembangkan, memodifikasi, dan mendistribusikan. Karena banyak hal tidak bisa ditemui dengan membeli lisensi software propietary karena Anda hanya mempunyai hak pakai secara individu. Jangankan menjual, mengcopy ke komputer lain bisa jadi berurusan dengan pihak legal hukum. itu!.

Blender Indonesia awalnya didirikan sebagai alat pemersatu serangkaian komunitas, studio, dan pengorganisiran animasi khususnya yang berbasis FOSS. Namun dari perkembangan dan antusiasme para anggotanya, BI menjadi berkembang dengan serangkaian Visi dan Misinya. Berturut-turut prestasi dalam satu tahun ini adalah: [dot]BlendMagz/ebook pertama BI, Juara GCOS 2009, Open Movie Seruling, Creative Motion 5 Kota, berdirinya Open Studio Society (OSS) di Jogja berlanjut di Surabaya, dll. Khusus Open Movie, saat ini masih dalam proses finishing di OSS Jogja (selengkapnya: http://serulingproject.blogspot.com).

Ada satu point yang mendalam dari para anggota forum BI, yaitu mencipta. Awalnya kami hanya saling kritik dengan membuat karya dan mengupload di forum, belakangan beberapa anggota merapakan barisan dan membentuk sebuah komunitas regional di kota masing-masing. Salah satu yang menonjol adalah BARA (blender Army Surabaya) yang dipimpin oleh Adhicipta dan kawan-kawan. Proses yang kami alami sangat berbeda yang tadinya hanya menonton kini menjadi pencipta. Artinya ada keseriusan dan komitment yang tidak saja berkumpul atau nongkrong dan meyebarluarkan Blender sebagai sofwate handal, akan tetapi memulai memodifikasi blender, mengimplementasikan dalam project, menciptakan pendukungnya, dan menghasilkan sebuah karya dalam animasi atau still image.

Saya berpendapat bahwa pola pikir semacam ini harus di copas (copy-paste) ke seluruh komunitas. Tidak dipungkiri jika selama ini banyak komunitas hanya terkesan berkoar soal FOSS dan temuannya untuk disosialisasikan. Jarang komunitas yang mulai menghasilkan sesuatu, kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Salah satu yang menonjol adalah BlankOn. Bisa jadi ini adalah kesalah-pahaman tentang terminologi FOSS tadi. Tidak terbayang berapa energi yang harus dikeluarkan dari kegiatan semacam ini.

MERUBAH PENONTON menjadi PENCIPTA
Sebelum saya berbicara tentang banyak hal yang bisa dihasilkan dari FOSS khusunya animasi dan Blender. Maka marilah kita keluar sejenak menuju ke satu MindSet pencipta. Dari satu kata saja saya yakin banyak yang langsung paham artinya. Mencipta berarti membuat, melahirkan karya, menghasilkan, mendesain, bekerja, dsb. Yup, itu dia pointnya! Anda langsung bisa menganalogikan sebuag ciptaan dengan produsen.

Dihubungkan dengan animasi, maka berarti disini adalah menciptakan produk-produk yang berhubungan dengan animasi. Film, games, software interaktif, karakter, dll. Banyak produk yang bisa digali dari satu bidang, film misalnya. Maka langsung terhubung dengan karakter, property film, environment, serial, short movie, layar lebar, dll. Tidak perlu terburu-buru, tangkap saja satu produk, karakter misalnya.

Dalam sebuah film maka hal yang paling menonjol selain cerita adalah karakter. Karakter adalah sebuah kepribadian yang membedakan satu dengan yang lain. Singkatnya sebuah identitas. Nah, karakter dalam film berbentuk gambar (animasi) yang mempunyai sifat tertentu dan misi dalam kaitannya dengan sebuah script atau cerita. Sebuah karakter sengaja diciptakan untuk mempengaruhi atau memberi pesan kepada khalayak (penonton) dengan dibumbui cerita dalam adegan yang mengisahkan. Kekuaan sebuah karakter sangat ditentukan oleh motivasi positif dalam cerita dan penggambaran secara visual dalam bentuk gambar. Bicara gambar berati bicara komunikasi verbal/visual. Jadi karakter haruslah mewakili sebuah pesan yang ingin disampaikan yang akhirnya menjadi ikon tertentu yang mempengaruhi pemikiran masyarakat atau penontonnya.

Produk karakter sudah selayaknya mempunyai lisensi. Dalam dunia HAKI karakter termasuk Intelektual Property yang diciptakan produsen dan dilindungi oleh hukum. Hanya produsen pemegang lisensi saja yang boleh mendistribusikan, memperbanyak, menggunakan dalam media yang disepakati. Misalnya saja: karakter Donald yang diciptakan Disney. Disney sebagai pemegang lisensi mempunyai hak penuh secara intelektual untuk menjual dan mendistribusikan dalam bentuk merchandise, film, action figure, dll. Pemegang lisensi di setiap negara atau studio harus membayar Hak ini kepada pemegang utama. Sehingga pihak pemegang boleh memplublish sesuai perjanjian yang disepakati. Tentu saja ada keuntungan besar yang dimikili oleh produsen utama. Intinya dari satu hal karakter saja bisa dibayangkan keuntungannya secara bisnis.

Kaitan dengan penciptaan diatas adalah: jika tadinya masyarakat FOSS tadi hanya ber-euforia menontong rilis terbaru sebuah produf bernama FOSS, maka sudah sepatutnya kini FOSS yang menghasilkan penciptaan produk FOSS baru yang dinamakan IP (Intellectual property) atau kekayaan intelektual. Hukum yang mengatur kekayaan intelektual di Indonesia mencakup Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri, yang terdiri atas Paten, Merek,Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Perlindungan Varietas Tanaman. Jadi jelaslah kalau dari sudut pandang animasi saja banyak hal bisa dihasilkan dengan Blender dan FOSS sebagai basisnya.

Apa Saja yang Bisa Dilakukan?
1. Segera mendata & mengorganisir potensi Anda
2. Memulai mencipta
3. Try & Eror
4. Dokumentasi
5. Konsisten
6. Teamwork
7. Goal Akhir (devisa, materi, pengangguran, dll)

HizaRo.com
kapten@blenderindonesia.org

Start From Here!


KEMANDIRIAN AWAL SEBUAH PROSES

Definisi Kemandirian

Mandiri adalah sebuah keadaan ideal individu untuk melakukan sesuatu. Titik dimana segala kesiapan/persiapan sebuah proses akan terus berlanjut. Mandiri bukan sebuah akhir atau pencapaian dalam melakukan sesuatu (cita). Justru kemandirian harus dijadikan awal pijakan sebelum segala sesuatunya
akan diraih. Alangkah dangkal jika sebuah cita-cita hanya sampai dikata mandiri saja.

 

Seseorang bisa dikatakan mandiri jika minimal bisa menguasai diri, mengertipotensi-potensi diri, dan tidak bergantung mutlak kepada orang lain. Sering disebut juga sebuah “kemerdekaan” (freedom). Beberapa sumber mengatakan bahwa mandiri juga merupakan sebuah skill yang didasarkan kekuatan, kemauan, dan hasrat diri (passion) untuk berbuat. Dalam bahasa Inggris sering disebut Independent. Sedangkan secara kategori sering disebut antara lain, Jiwa Mandiri, Ekonomi Mandiri, Mental Mandiri, Kreatif Mandiri,
dan seterusnya.

Point dari sebuah kemandirian bagi saya adalah mandiri sebagai HAK asasi. Ini berarti sangat bergantung pada pilihan diri seseorang. Dan untuk mengetahui mandri tidaknya seseorang yang paling mengerti adalah dirinya sendiri. Sebagai contoh adalah seorang yang berada di penjara. Bagi kebanyakan orang penjara dalah akhir dari segalanya. Sempit, gelap, mencekam, dll. Tetapi sejarah mencatat banyak karya besar lahir dari tempat ini (Tafsir Prof. Hamka, Tan Malaka, Soekarno, Penulis Yunani & Romawi, dst). Secara fisik memang di terali besi, tetapi belum tentu Ia tidak merdeka secara jiwa. Memang fisiknya tidak bisa kemana-mana selain makan dan tidur di penjara, namun bisa saja pikiran dan jiwanya melanglang buana ke negeri
entah berantah. Jadi, sekali lagi mandiri disini bukan soal fisik semata namun sebagai sebuah pola pikir (mindset).

Bagaimana Memulai?
Setelah mengerti definisi mandiri, maka hal selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara
memulai, kapan, darimana, dst. Banyak cara untuk melakukannya dan tidak ada keharusan untuk menjiplak
cara orang lain. Namun ada syarat minimal yang paling dasar, yaitu dimulai dari diri sendiri dan sejak dini. Karena proses ini tidak selalu sama, maka alangkah baiknya jika prosesnya lebih awal.

Belajarlah dari pengalaman orang lain melalui buku, internet, dan berdialog dengan sahabat terdekat Anda.
Dengan demikian bisa memangkas proses dari segi waktu. Setidaknya tiak perlu mengalami kesalahan yang
sudah dilakukan oleh orang lain. Cerdas!

Berdasarkan pengalaman saya, mandiri terbagi menjadi 3 proses. Secara jiwa, ekonomi, dan mental. Untuk lebih jelasnya saya akan coba uraikan satu demi satu agar Anda mengerti yang menjadi point dari pengalaman saya.

Jiwa Mandiri
Seperti yang sudah disinggung diatas, bahwa mandiri bisa berbicara soal jiwa/pikiran (mindset). Mungkin saat ini Anda masih banyak bergantung kebebasannya secara fisik, masih butuh bantuan orang lain, atau bekerja dibawah tekanan sebuah instansi. Tapi saya menekankan untuk TIDAK terpenjara secara jiwa/pikiran. Mulailah membebaskan pola pikir Anda dengan sesuatu yang bisa membuat diri sendiri senang (positif). Jangan terbelenggu oleh doktrin atau di dikte oleh pemikiran orang lain. Berkelanalah secara bebas namun bisa dipertanggungjawabkan. Karena kebebasan yang baik tentunya tidak merugikan orang lain.
Pola atau sistem pendidikan di indonesia memang masih jauh dari harapan ideal bagi sebagian besar masyarakat. Tetapi tidak berarti apapun bagi seseorang yang sudah mempunyai jiwa yang mandiri. Secara fisik memang sama dengan kebanyakan orang dalam aktifitas keseharian. Bedanya akan segera tampak dalam sikap menghargai waktu, cara merespon masalah, dan cerdik dalam keterbatasan. Ternmasuk dalam hal kreatifitas, seorang yang kreatif dan mandiri jiwa/pikirannya akan tidak banyak mengeluh dan cenderung berhasil mengakali keterbatasannya. Bagi orang semacam ini, alat bukanlah hal mutlak, yang
mutlak adlah bagaimana memaksimalkannya untuk menunjang ide-ide dan kegelisahannya. Sebaliknya bagi orang yang belum mandiri, hal sekecil apapun akan nampak menyusahkan baginya. Takut akan banyak hal yang belum tentu terjadi, cenderung meninggalkan masalah dan bukannya menyelesaikannya. Sikapnya jelas berbanding terbalik, waktu menjadi relatif lama karena banyak hal tidak efisien dilakukannya. Output inilah yang menentukan keberhasilan seseorang. Ingat, waktu tidaklah GRATIS! Maka segeralah membebaskan jiwa dan pikiran Anda menjadi mandiri untuk banyak hal.

Ekonomi Mandiri
Setelah pikiran menjadi mandiri, maka kita harus menjadi mandiri secara ekonomi. Ya, ekonomi disini adalah kebutuhan dasar dan pelengkap termasuk pengertiannya secara primer, sekunder, dan tersier. Tentu saja hal ini adalah dambaah banyak orang, baik tua maupun muda dalam ukuran yang wajar. Kemandirian ekonomi besar pengaruhnya bagi kemandirian yang lain. Bagaimana mungkin bisa mengatasi banyak tantangan/masalah jika ekonominya saja masih ditopang oleh orang lain (bergantung).

Contoh kongkritnya adalah negara kita. Dari sudut ekonomi kita belum dikatakan mandiri alias masih bergantung oleh bangsa lain. Akibatnya secara halus namun pasti, perbudakan masih saja terjadi, hanya bentuknya yang modern dan tertutupi dengan halus. IMF misalnya yang dimasa krisis moneter terjadi seakan menjadi penentu setiap kebijakan pemerintah, dan banyak contoh seperti freeport, ilegal logging, dll. Fiuh, banyak sekali hutang dicatat dalam rekor negara karena ekonomi kita sangat lemah, karena kita tidak mandiri secara ekonomi. Bagi seorang mahasiswa kemandirian secara ekonomi tidak harus dalam pengertian luas. Misalnya saja dengan bekerja paruh waktu untuk membantu orang tua dalam hal biaya kuliah. Atau menggunakan kreatifitas dan potensi diri untuk menghasilkan. Saya yakin efeknya bisa beragam dan positif. Mahasiswa menjadi lebih percaya diri, semakin terampil, tidak minder, dan keyakinan diri yang semakin kuat. So, gunakan waktumu untuk hal yang positif dan gunakan untuk menunjang aktifitas.

Dalam kasus mahasiswa desain grafis misalnya, maka kreatifitas dan ide-ide Anda sangat dibutuhkan dalam banyak hal. Mulailah berlatih menerapkan ilmunya dengan mengikuti kompetisi desain, magang di advertising, percetakan, atau menjadi creative konsultan di berbagai agency, dll. Anda beruntung karena
modal utama sudah dipegang, otak. Dengan demikian tiodak perlu dijelaskan lagi kalau kemandirian secara ekonomi bisa dimulai dari SEKARANG!

Mental Mandiri
Nah, kemandirian mental ini menarik. Mengapa? Karena mental mandiri menentukan generasi. Saya beranggapan bahwa kemajuan suatu bangsa terukur dari sikap mental yang mandiri. Tidak ada revolusi industri, reformasi pemerintahan dan bisnis tanpa adanya mental mandiri yang kokoh.

Dimasa-masa ini banyak sekali paradok yang terjadi dalam masyarakat (atau parodi). Lihat saja banyak orang tua dengan tergopoh-gopoh berusaha mencari dana untuk menyekolahkan anaknya, sementara si anak justru menghabiskan waktunya di warung kopi atau nongkrong (negatif) bersama temannya. Tidak salah memang, namun lain halnya jika kita sudah memegang 2 sikap diatas, jiwa dan ekonomi. Hal-hal asik bisa berarti peluang bahkan bisnis. Karena nongkrong tidak selalu berarti negatif, semua tergantung dari sikap dan motivasinya. Namun dilapangan menunjukkan bahwa, banyak waktu hanya digunakan untuk hal yang kurang berguna. Stop berpikir masa depan dulu! Lakukan perubahan dari lingkungan kecil, diri sendiri. Bayangkan apa yang akan terjadi jika mental mandiri ini dilakukan secara massal. Dahsyat! Niscaya bangsa ini akan bergetar, ekonomi akan bergerak sehat, pemerintahan akan membaik, dan kehidupan menjadi lebih baik. Kemandirian mental adalah kebutuhan mutlak yang bisa merubah suatu bangsa, mengalirkan peradaban, dan mengobarkan semangat juang. Lakukan dengan segera dan Tuhan pastinya akan memberi
reward untuk Anda.

Kesimpulan
Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali lakukan dari sekarang. Berapapun banyak buku Anda di lemari, sebagus apapun sifat Anda, sesempurna apapun fisik Anda, akan menjadi tidak berguna jika tidak disertai dengan perbuatan sedini mungkin. Mungkin Anda masih bersatus mahasiswa baru hari ini, tetapi ingat bahwa beberapa saat lagi akan menjadi sejarah lalu. Tidak perlu menyesal jika Anda sudah melakukan
yang terbaik saat ini. Bayangkan bahwa proses belajar ini menarik, penuh tawa, dan akan membawa banyak perubahan. Akhirnya selamat berproses dan menciptalah! Karena Revolusi Adalah Mencipta (Tan Malaka)

by HizaRo

Disampaikan dalam orientasi
Modern School of Design, 16 September 2010

9/27/10

Garap Animasi Lokal Bagai Perang 'Seruling Bambu' vs 'Flute'


[Detik] Penggunaan software open source vs software komersial ibarat 'seruling bambu' vs 'flute'. Harganya jauh berbeda, tapi kualitas nada boleh diadu. Hal itu yang dirasakan oleh penggiat proyek animasi tiga dimensi (3D) lokal Seruling Project. Modal awal mereka adalah Rp. 0,- alias tanpa modal.


Karena tanpa modal, Seruling Project menggunakan software-software open source yang gratis dalam berkarya. Namun kualitasnya tak kalah dengan software komersial.

"Hal utama kenapa kami menggunakan software open source tersebut adalah karena tidak mau bermasalah dengan urusan lisensi/bajakan. Software yang kami gunakan semua free (bebas)," ujar HizaRo selaku Director Seruling Project, ketika dihubungi detikINET via-email, Selasa (19/1/2010).

Hiza pun mengungkap bahwa pengguna hanya tinggal men-download dan menggunakan software sesuka hatinya. Jika perlu, mereka juga bisa melakukan modifikasi sesuai kebutuhan agar proses produksi lancar.

"Hal ini tidak kami dapatkan dengan software proprietary karena harus membeli lisensinya yang sangat mahal. Terus terang kami berasumsi nol budget alias tanpa sponsor pada awalnya. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan donasi akan kami dapatkan dari berbagai pihak yang tergerak," tambahnya.

Project ini sebenarnya ingin membuktikan, bahwa Open Source sangat ampuh untuk pekerjaan animasi yang berkualitas. "Hal ini diharapkan dapat memotivasi rekan-rekan lain yang akan memproduksi film animasi dengan dana terbatas," tandas Hiza.

sumber:
http://www.detikinet.com/read/2010/01/19/151930/1281673/404/garap-animasi-lokal-bagai-perang-seruling-bambu-vs-flute

Film Animasi Lokal 'Lahir' dari Seruling


[Detik] Seruling (Suling Bambu) adalah sebuah alat musik khas Indonesia. Walaupun sederhana dan terbuat dari bambu, seruling pun bisa menjadi suguhan orkestra yang luar biasa.
Lantas apa hubungan antara seruling dengan film animasi tiga dimensi (3D)? Ternyata seruling telah menjadi inspirasi untuk sebuah proyek pembuatan film 3D di Indonesia.


Proyek itu bernama Seruling Project, yaitu sebuah upaya gotong-royong untuk menciptakan film animasi 3D khas Indonesia. Proyek ini digawangi oleh forum Blender Indonesia, sebuah kelompok pengguna aplikasi 3D Open Source Blender.

"Ide dasarnya memang mengacu pada Open Movie Blender di Belanda, namun kami berbeda dari sistem kerjanya yang full Online. Kami ingin membuat workflow/pipeline animasi secara online dengan memaksimalkan internet dan tools open source khususnya Blender 3D," ujar HizaRo selaku Director Seruling Project, ketika dihubungi detikINET via-email, Selasa (19/1/2010).

Hiza menargetkan proyek berupa film pendek sepanjang 5 menit yang sepenuhnya menampilkan animasi 3D, akan selesai sekitar bulan Agustus 2010.

"Proses open movie ini tentu sangat berbeda dengan proses yang lain. Di mana kami membuka kemungkinan setiap orang untuk melihat, berkomentar, membantu, dan berkolaborasi melalui Blogs Seruling. Ini yang menarik," tambahnya.

Komunitas tersebut berharap, proyek ini dapat menjadi pionir dalam perkembangan animasi open source di Indonesia. "Sekaligus membuka mata kita dengan eksistensi dan integritas, keselarasan dalam perbedaan, kebersamaan dalam satu komitmen, dan berbagai maksud positif lainnya," tukas Hiza.

sumber:
http://www.detikinet.com/read/2010/01/19/151144/1281666/404/film-animasi-lokal-lahir-dari-seruling

Blender Indonesia – Puas Beranimasi dengan Open Source




[PCplus]
Industri animasi di tanah air masih belum terlalu bergejolak. Bahkan, saat animasi garapan anak bangsa, seperti “Homeland” dan “Meraih Mimpi”, gaung animasi di negeri ini tetap belum santer terdengar. Padahal, banyak bakat potensial yang sanggup menelurkan karya animasi yang tak kalah apik. Kalau mau tahu, salah satu peta talenta tanah air bisa dilihat di Blender Indonesia, sebuah komunitas pengguna Blender – software open source untuk animasi, 3D modelling, rendering, sampai post-production.


Rasanya tak berlebihan untuk memuji bakat para animator muda yang “nongkrong” di komunitas ini. Di usianya yang terbilang baru (belum genap setahun), Blender Indonesia telah meraih penghargaan dari Menkominfo sebagai Juara Pertama Kompetisi Komunitas FOSS. Mau tahu apa saja yang sudah mereka kerjakan? PCplus sampaikan hasil ngobrol-ngobrol beberapa waktu lalu dengan pendiri Blender Indonesia, Hizkia Subiyantoro atau yang lebih dikenal dengan nickname Hiza Ro.

PCplus: Bagna awal aimaterbentuknya Blender Indonesia?
Hiza: Komunitasnya sendiri sudah mulai ada sejak tahun 2007, tapi masih terpisah di berbagai forum dan belum fokus pada pengguna Blender saja. Masih campur dengan pengguna 3D Maya dan software animasi lainnya, juga masih banyak yang menggunakan software bajakan. Dari situ kemudian kami gerakkan – kalau mau legal , pindah ke open source saja karena lebuh terjangkau. Kami pakai Blender.

PCplus: Kenapa Blender?
Hiza: Software ini sangat powerful, mau ngapain saja bisa, mulai dari bikin animasi 3 dimensi, game, olah video, pokoknya campur-campur – makanya disebut Blender. Dan, yang paling penting, lisensinya GPL, open source, sehingga kita bisa akses source code-nya dan melakukan modifikasi jika dibutuhkan, dan gratis! Jadi merasa sudah terpenuhi semua. Kalau kita pakai software animasi lainnya, investasi bisa mahal sekali, bisa ribuan dollar per komputer. Dana dari mana? Banyuak orang menyiasati harga mahal dengan pakai software bajakan, tapi itu bukan pilihan bijak.

PCplus: Jadi kapan tepatnya Blender Indonesia terbentuk, siapa saja anggotanya?
Hiza: Blender Indonesia baru terbentuk pada Agustus 2009, tujuannya untuk menyatukan komunitas-komunitas Blender di Indonesia yang sampai saat ini masih terpecah dan independen. Komunitas ini didirikan dengan kekuatan komunitas dan untuk komunitas. Di sini, untuk anggota komunitas adalah Blender Army. Saat dibentuk pertama kali, anggotanya hanya lima orang, lalu bertambah terus hingga sekarang mencapai 600-an orang. Mereka datang dari berbagai kalangan – ada dosen, mahasiswa, hingga anak sekolahan mereka tersebar di beberapa kota di Indonesia, yang terbesar adalah di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan Surabaya.

PCplus: apa agenda kegiatan komunitas ini dan rencana ke depannya seperti apa?
Hiza: Untuk tahap awal, beberapa agenda yang sudah kami selesaikan adalah membuat portal Blender (http://blenderindonesia.org), majalah digital, modul, pemetaan komunitas dan gathering. Saat ini kami sedang menggarap open movie, menyiapkan pembuatan buku dan video tutorial, kurikulum, penggalangan dana, dan pengadaan hardware. Rencana ke depan, kami ingin bisa memfasilitasi berbagai proyek open source, terutama yang berbasis Blender – baik berupa open movie maupun open game. Kami juga ingin membentuk Open Studio Society (OSS), sebuah kominitas yang lebih besar lagi dan anggotanya lebih beragam, ada dari kalangan fotografer, pemusik, penulis skenario, dan ada programmernya juga. Blender Indonesia juga menjadi bagian dari OSS ini. Kami ingin membuat Open Labs, semacam ajang pelatihan animasi di tiap SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Saat ini kami sedang menyiapkan kurikulumnya

PCplus: Wow, lumayan padat ya. Ada kendala enggak dalam realisasinya?
Hiza: Iya, lumayan padat. Kami sudah membuat semacam to do list untuk memetakan penjadwalan proyek-proyek tersebut (Hiza Ro menunjukkan 2 lembar kertas berisi to do list Master Project Open Studio berikut project timeline-nya – red). Soal kendala, tentu saja ada, tapi kami lebih suka menyebutnya tantangan. Salah satunya adalah faktor komunikasi. Karena kami berjauhan dan tersebar di berbagai kota, jadi komunikasi hanya bisa berlangsung lewat internet, jarang bisa gathering karena berbagai alasan. Selain itu, masih banyak Blender Army yang menganggap animasi sebagai hobi dan senang-senang. Tantangan lainnya adalah leadership untuk masing-masing kota. Sampai saat ini baru empat kota yang sudah memiliki leader, yaitu Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan Surabaya.

PCplus: kabarnya kalian sedang menggarap Seruling Project, apa itu?
Hiza: Iya, betul. Seruling Project adalah proyek open movie pertama kami, sebuah film pendek animasi full 3D dengan Blender sebagai core softwarenya. Pengerjaannya digarap oleh volunteer semua, bisa dibilang hanya dua orang yang menjadi tulang punggung, tapi tetap bisa jalan juga. Sekarang sudah rampung 60%, targetnya agustus nanti kelar sehingga kami bisa melakukan pemutaran perdana saat gathering – bertepatan dengan ulang tahun Blender Indonesia yang pertama. Selain Blender, film ini juga dibuat menggunakan software open source lainnya seperti GIMP dan Inkscape, smeentara untuk sistem operasinya kamu pakai Linux Ubuntu.

PCplus: Kasih bocoran dong, soal film yang dibuat?
Hiza: film ini berdurasi 5 menit. Bercerita tengang komunitas kampung dipinggiran Jakarta, Kampung Urban namanya. Tokoh utamanya adalah seekor ayam jago, namanya Ayam Urban, hehehe. Ayam jago dipilih karena merupakan simbol aroganisasi dan kekuasaan, sementara lawannya adlah ayam-ayam kecil. Film ini mengangkat metafora sederhanatentang perlawanan terhadap arogansi menggunakan konsep “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” atau “together we can”. Rencananya akan diberi judul “Kukuruyuk”. Film ini akan dikemas dengan standar produksi kualitas DVD, semua source akan kami bagikan dan siapa saja bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Selain film, kami juga menulis dokumentasi tentang proses produksinya, mengemasnya dalam bentuk buku The Making of, lengkap dengan segala masalah dan solusinya. Disini kami mengutamakan proses, selain tentu saja, hasil yang maksimal dengan kualitas yang tidak mengecewakan (lebih lanjut tentang Seruling Project bisa diakses di http://blenderindonesia.org/seruling/ - red).

Site spotlight: Blender Indonesia


[Blendernation.com] I was contacted by HizaRo, who has created a nice site for the Indonesian Blender community. It has news, tutorials and a gallery. When I read the pages my brain feels like it’s in a knot, with texts such as ‘Tujuan dari kompetisi ini adalah menjaga semangat bersaing dan kreatifitas antar anggota’ ;-) Still, great job – I hope the Indonesian Blender community will benefit from this!


HizaRo writes:
Hello, my name HizaRo. I live in Jakarta-Indonesia. Work on the game developers as animator. I was one of the lovers Blender and early August will start soon inaugurate the portal for Blender user in Indonesia. While blender is developing quite well in my country, then that is the blender to create org indonesia. Hope I can be a central Blender software development especially in Indonesia, and opensource in general. Looking in August. Thank you.

sumber:
http://www.blendernation.com/2009/09/04/site-spotlight-blender-indonesia/

Indonesian Animators Creating Their Own World




[Jakarta Globe]
The world of animation has progressed dramatically since the days of Disney’s “Snow White and the Seven Dwarfs.” While last year’s wonderfully nostalgic “The Princess and the Frog” brought back the era of hand-drawn cartoons, the last decade has been dominated by 3D animation.


Beginning with “Shrek” and “Toy Story” — both of which grew into lucrative franchises — 3D animation has grown rapidly in technique and details. Compared to more recent movies such as “Avatar” “Up” and “Wall-E,” the graphics of the first generation pale in comparison. But considering how first-rate the trailblazers were when they hit the screen, that’s saying a lot.
But it’s not just in the United States and other more-modern countries that animation is gaining ground. Indonesia’s talented computer artists are eager to show the rest of the world that they’re a force to be reckoned with.

While the country has yet to produce anything of Pixar’s caliber, there have been some proud achievements. Last year, the Batam-based animation studio Mediacorp Raintree Pictures produced the country’s first 3D feature, “Meraih Mimpi” (“Sing to the Dawn”). The film was a box-office success and critics say the it announced the country’s arrival in the animated movie-making universe.

“Animation in Indonesia has gotten better and progressed significantly,” says Hiza Ro, who represents Blender Community, one of the nation’s leading animation societies. “This era of technology has made the software and hardware [needed to create animation sequences] easy to obtain.”

Hiza points to the increasing number of animation production houses popping up in Indonesia, including big names like Kasatmata (Invisible) Studio in Yogyjakarta and Castle Studio in Jakarta.

“With the progress local animation studios are making, we’re certainly at a place where calling yourself an ‘animator’ can be a proud declaration,” Hiza says. “With the number of newly formed production houses specializing in [animation for] television advertisements, as well as opportunities creating short films and designing computer games, a person can live as an animator in this country.”

Aldy Waani is a motion graphic designer who has directed and produced numerous features, including a trailer for the video game “Gladiator” for Microsoft’s Xbox. He’s worked for post-production companies including Luminaire Digital Post and Lumine 3D House. He’s also a member of the Blender collective.

According to Aldy, the local animation industry is off to a promising start.
“Tons of local animators were recruited to work for Lucasfilm Animation Singapore,” he says. “You should also know that the well-known game ‘Need for Speed Underground’ involved a lot of Indonesian animators.” Hiza agrees, and says that rapid growth is one of the reasons the members of Blender got together.

The collective was officially formed in August, but has grown swiftly in both members and activity. It was formed by animators from various communities around the country who realized that they would hold a stronger influence as a group of artists. Blender’s Web site, blenderindonesia.org has become a hub for the country’s animation artists as well. The site is a place for animators to share and display their work and offers discussion boards that give members a forum to discuss anything related to animation.

Hiza says that Blender’s primary purpose is to encourage artists with limited means to create something original with what they have. He describes the group as “a large collective of fans, workers and studios trying to develop this ecosystem surrounding open-sourced animation software.” Blender shies away from using illegal software, which is an encouraging stance of integrity in a country famous for its lack of artistic ethics. For animators on a budget, the group promotes the use of open-source programs developed by senior designers in the industry and available for free on the Internet.

Hiza says that the seeds of Blender were planted when a few of the group’s founding members bumped into one another at the Global Conference on Open-Source Software in South Jakarta last October. “Our goal is to create an atmosphere of quality and creativity that is legally sound,” he says. “We want to help drive the economy and create healthy working opportunities for the younger generation.”
But Aldy says staying true to the law isn’t easy and that honesty comes at a price.

“The software needed for fresh video effects are not cheap,” he says. “But it all goes back to creativity, especially in using limited resources. Creativity knows no boundaries.”
Hiza says that although the vast library of local animation created by Blender is definitely influenced by their American and Japanese colleagues, Indonesian animators are slowly taking on their own form and creating truly unique works.

“Generally, the diversity of Indonesian culture has provided a great influence toward the development of local animation,” Hiza explains. “We’re somewhat still trying to figure out our own voice, so to speak, but slowly and surely you see the variety of our colors, style, design and story line.”

According to Aldy it is a positive sign that a lot of Indonesian animation borrows from local content, including “Si Kabayan,” an animated series shown regularly on Global TV.
“It gives our animation a distinct feel compared to international animation,” Aldy says.
With all these encouraging developments, Aldy says he knows what expect from the artists in Blender and other burgeoning animators in Indonesia.

“We are going to give a variety in style and substance — things different than what non-Indonesian animators have to offer — a promising alternative for animation junkies here and across the board.”



Source: http://www.thejakartaglobe.com/artsandentertainment/indonesian-animators-creating-their-own-world/364070