3/17/17

Pencapaian Roda Pantura 2017 (Sementara)


Sejak pertama kali dirilis bulan Juli 2017, film Roda Pantura roda pantura masih mencari layar untuk bisa world premiere di festival-festival pilihan. Goal saya adalah, festival yang 'OSCAR Qualification'. Maksudnya? festival yang peserta/pemenangnya direkomendasikan untuk rujukan Academy Award. Tidak mudah memang, tetapi saya yakin saja.

Setelah bebrapa festival 'gagal/menolak' pada tahun 2016, berit baik terjadi di awal 2017. Sebuah email masuk ke produser saya, dan memberitahukan bahwa film ini masuk dalam seleksi festival mereka. Tidak tanggung-tanggung, festival ini adalah sebuah festival animasi terbesar didunia! Stuttgart Trick Film Festival.


Tak sampai 2 bulan kemudian, film Roda pantura juga mendapat kesempatan masuk ke ATHENS ANIMFEST, di Athena Yunani.



Bersih-Bersih Idola



Pagi ini saya sedang membersihkan file-file digital saya, baik berupa document, email, maupun spam-spam. Rutinitas bulanan yang tertunda.


Dalam sebuah pesan Linkedn saya menemukan percakapan saya dengan sutradara film Minions berdarah Indonesia, Pierre Coffin Padang. Saya lupa, waktu itu sebelum ke Perancis 2015, saya sempet iseng email beliau. Saya mengatakan, kita akan berada di event yang sama, dan saya ingin bertemu dengan anda. Tak terduga, Pierre menjawab!

"Pikir saya, mungkin ini hanya jawaban template"

Dan benar, saya bertemu beliau di festival Annecy 2X. Pertama, berpapasan sewaktu di Hotel dalam sebuah market. Kedua, dalam sesi tanda tangan dengan para fans Minions. Saya sempat berbincang sedikit, dan bertanya apakah dia bisa bahasa Indonesia?
"NO! Sedikit-sedikit bisa", katanya.

Mungkin sedikit grogi, Entah kenapa, saya tidak fokus merekam percakapan itu lewat kamera action kecil saya, dan LUPA ON RECORD! Huh...

"Dasar bocah ndeso, gumunan! hehe..."

Tapi, beberapa idola saya (mungkin juga semua animator) sempat saya abadikan secara pribadi, bukan juga we-fie sih! (LOL). Mereka antara lain: Byron Howard (Zootopia), Steve Martino (Snoopy, (Tangled & Wreck.it.Ralp), Richard William (Animation Survival Kit), William BECHER (Shaun the Sheep), Jorge GUTIERREZ (Book of life), dll.

Pointnya adalah:
Jangan berhenti gumunan dan segera kirim pesan ke idolamu, siapa tau beruntung seperti saya!


Next Goal:
Saya ingin mengirimi Hayao Miyazaki Rokok Klobot, dan tembakau Imogiri yang khas beserta cengkeh dari Manado. Siapa tahu, saya diajak nongkrong di rumah beliau atau ngobrol pakai bahasa tarzan di roof top studio legendaris, Ghibli. Semoga!
feeling blessed in Annecy.

2/25/17

Animasi Club


 

 
 
 
Animasi Club adalah Club/festival animasi, fokus kepada karya berbasis handmade/craft & eksperimental.  
Kegiatan utamanya adalah:
 
 - Menonton/Pemutaran karya
 - Diskusi & wacananya
 - Proses kreatif & konsep
 - Distribusi 
 
 
 
 
Pengantar
 
Nusantara adalah negeri artistik, tropis, dan paradoks. Keragaman suku, ras, agama, serta interaksinya yang unik dan berbeda, tentu melahirkan 
ide-ide dan pencapaian-pencapaian yang sama sekali berbeda dengan benua lain. Ikilmnya yang tropis dan kaya matahari menjadikan Nusantara 
sebagai surga warna, karakter, dan perilaku masyarakatnya. Sementara sebagai sebuah negara yang terus berkembang dari tradisional menjadi 
modern, situasi politik yang masih mencari bentuk, dan desakan percepatan pembangunan serta investasi asing, mendorong 
perilaku-perilaku paradok dan unik sebagian besar masyarakatnya.
 
Khusus dalam film animasi, derasnya genre hollywood dan jepang yang membombardir industrinya, menyebabkan masyarakat film animasi di 
Nusantara kehilangan/belum menemukan patokan-patokan dalam mengembangkan karyanya. Animasi dan karyanya selalu dipandang dalam kacamata industri dan pasarnya saja. Sedangkan ukuran-ukuran nilainya selalu dibandingkan dengan pencapaian angka/uang. Sumber daya animasinya dicetak untuk 
berpihak kepada pesanan-pesanan komersial saja. Sehingga, sadar atau tidak, menyebabkan kekerdilan berkarya animasi dengan kacamata ekspresi 
dan pencapaian artistik.
 
Dibelahan dunia sudah banyak muncul festival-festival animasi yang mewadahi seniman-seniman animasi seperti 
ini. Sebut saja Annecy, Leipzig, Cinanima, Atlanta, dll. Dalam perkembangannya hal-hal semacam ini sudah menjadi kegiatan wajib utama 
yang mendasari karir seniman animasi, bahkan menjadi sebuah industri tersendiri dan memiliki pasarnya.
 
Belum ada festival animasi di Indonesia yang murni mendasari eventnya berdasarkan hal diatas. Selalu 
dicampurkan dengan ‘perdagangan’ dan pameran-pameran industri. Sementara ruang-ruang animasi alternatif ini tidak pernah mendapat tempat 
tersendiri. Latah terjadi, banyak bermunculan studio animasi tiba-tiba memulai karya 3 dimensi, sementara dasar-dasar animasi fundamental (2D) 
belum dikuasai secara benar, alhasil letupan-letupan imajinasi cerita dan visualnya tidak tersampaikan dengan baik, atau minimal layak dilihat
secara audio atau visual. 
 

Twitter @animasiclub
IG @animasi_club
FB Animasi Club

2/24/17

Level Manusia/Bangsa (menurut saya)



Level Atas
"Ora nduwe opo-opo, tur opo-opo iso!"
(Ngga punya apapun, tetapi apa saja bisa melakukan/menguasai)

Level Menengah
"Ora duwe opo-opo, tur opo-opo nduwe!"
(Ngga punya apapun, tetapi apa saja bisa ada/diusahakan)

"Ora iso opo-opo, tur opo-opo iso!"
(Ngga bisa apapun, tetapi apa saja bisa melakukan/mengusahakan)

Level Terendah
"Kabeh nduwe, tur ora iso opo-opo!"
(Apapun dimiliki, tetapi tidak bisa melakukan apapun apalagi menguasai)

2/22/17

Investasi 'Manusia Langka'


Dalam waktu 10 tahunan ini saya bermain-main, bekerja, dan mengajar di berbagai universitas, LPK, komunitas, SMK, atau bahkan industri. Bidangnya animasi. Sebuah bidang yang membutuhkan waktu lama dalam proses pembelajaran. Baik secara skill, maupun pengalaman.


Banyak studio baru bermunculan. Banyak yang bangkrut sebelum berkembang. Hanya sedikit yang bertahan dan aktif berkarya, sedikit sekali. Ada banyak yang bertahan, tetapi 'enggan' maju dan menampakkan diri dalam ranah industri. Tidak sedkit yang ambisius, walau pada akhirnya hidup segan mati tak mau. Diantara sekian banyak problema teknis dan industri, cakupan distribusi dan keberlanjutan produk, satau yang saya cukup perhatikan keberadaaannya. Sumber daya manusia, atau kreatornya.

Saat ini tidak sedikit perusahaan besar yang mulai melirik animasi sebagai mesin meraup keuntungan. Tentu tidak salah, karena dalam dunia bisnis 'agama utamanya adalah profit'.

Apakah benar industri ini menghasilkan profit besar? atau modal besar tetapi profit minim?

Bagaimana dengan kesiapan SDM animasi, sebagai motor penggerak produksi? Lulusan SMK/kampus sudah siapkah bekerja?

Apa peranan komunitas offline maupun offline terhadap Industri animasi? Seberapa penting?

Biaya produksi animasi apakah semakin murah atau semakin mahal? Jika semakin murah, apakah dengan begitu gaji SDMnya semakin murah/murahan?

Bagaimana mengkomparasikan penghasilan/salary dengan kebutuhan pokok semakin melambung?

Sejauh apa peranan guru, dosen, pembimibing dan pengajar, balai pelatihan/diklat animasi di ranah akademik berusaha?

Apa yang sudah dilakukan perusahaan/studio animasi kaintannya dalam pengembangan SDM? Apakah mereka hanya 'menyerap madunya' tanpa ikut terlibat dalam kesiapan SDM?

Apa saja peranan pemerintah terhadap Industri ini? Bagaimana hukum lisensi softwares dijalankan?

Sebenarnya saya dan beberapa pelaku animasi sudah pernah memetakan berbagai masalah dan kemungkinan-kemungkinannya, lalu membahasnya dan menjadikkannya sebuah buku komplit. Tetapi karena perkembangan terus menerus bergerak maju, maka pertanyaan-pertanyaan diatas akan saya coba cari jawabannya, satu demi satu.

Tetapi ada satu hal yang menggelitik beberapa waktu lalu:

"Apakah industri produknya bisa kreatif? sebaliknya, Kreatif bisa diindustrikan?"

(sementara itu, produk-produk import semakin deras merajai Industri dengan berbagai kemasan menarik)

"ssslluuuuurrrrpppt.... sluprut kopi!"



...
Bantul, 22 Februari 2017

2/15/17

Manusia Custom


Ada sebuh cerita sederhana: Alkisah 2 orang sahabat yang masih sekolah, si kaya dan si miskin, keduanya tak ada masalah dengan perbedaan tersebut. Jadi inti ceritanya bukan itu.



/Cerita 1

Tiba suatu ketika mereka harus membayar uang sekolah. Si kaya tentu tidak harus bermasalah dengan uang, dengan begitu tidak pernah ada cerita SPP terlambat. Ia bisa konsen belajar dan berprestasi. Lain halnya dengan sahabatnya, di miskin.


Sebelum menuju sekolah, ibunya menyuruh si miskin untuk membawa serta sebuah bungkusan berisi makanan dan amplop serta TV 14" butut mereka, satu-satunya harta yang masih bisa diuangkan. Ibu berpesan, TV tersebut untuk digadaikan terlebih dahulu sebesar jumlah SPP, sedangkan bingkisan tersebut diberikan untuk seorang pedagang pasar. Ternyata ibu membuat makanan tersebut untuk dijual, sedang amplopnya adalah sebuah surat pengantar yang berisi permohonan.

/Cerita 2

Semasa kecilnya, si kaya dididik penuh fasilitas. Tidak pernah kekurangan gizi, bahkan mainan-mainan mahal pun tersedia lengkap. Intinya berbeda dengan masa kecil si miskin.

Si miskin tentu saja penuh kekurangan. Jangankan mainan, makanan saja seadanya, apa adanya. Nasi, sayur bayam, sambal, dan ikan layur asin adalah hidangan termewahnya. Itu pun terbatas 2X sehari.

Untuk mainan beda drastis. Mobil-mobilannya terbuat dari kotak sabun bekas (yang tak berbentuk mobil beneran). Pesawat-pesawatnnya terbuat dari kertas bungkusan tempe yang dilipat-lipat. Sedangkan layangannya terbuat dari lidi dan plastik kresek bekas belanja sayuran. Semua serba terbatas.

Singkat cerita, si kaya menjadi seorang politikus semasa hidupnya, sedangkan si miskin tentu saja menjadi, seniman!

---
Inti dari kedua cerita diatas adalah sebuah proses 2 kehidupan yang berbeda. Satu orang dididik hampir tanpa rintangan berarti, sedang yang lain penuh lika-liku kehidupan. Si miskin dididik 'secara custom'.

Untuk membayar SPP-nya saja, Ia harus melalui banyak hambatan, perjuangan, dan negosiasi dengan banyak hal (to do). Apalagi masa kecilnya dengan kotak sabun dan kertas bekas tempe itu. Bentuknya yang tak menyerupai mobil dan mainan beneran, membuatnya HARUS MENGIMAJINASIKAN benda-benda tersebut agar nampak seperti yang diinginkan. Ada usaha yang kuat untuk menjadi sesuatu (to have). Sedangkan untuk makan, Ia harus bertoleransi dengan perut, isi dompet, hingga rasa yang monoton itu. Lagi-lagi, rasa micin, sang penyedap rasa!

Jadi sudah tentu bahwa, manusia custom tersebut akan menjadi orang-orang kreatif dan pandai berinovasi. Pintar menyesuaikan jaman dan perubahan (to be). Kelak ketika memimpin, Ia lebih bisa menghargai orang lain, peduli sosial, hingga menemukan solusi-solusi perubahan menjadi lebih baik.

"Saya ternyata salah dugaan terhadap si miskin, Ia tidak benar-benar miskin. Ia kaya hati dan penuh imajinasi!"

Untuk yang hidupnya tidak custom? Ya, silakan membayangkannya sendiri.

Bantul, 15022017

2/10/17

Bagaimana karakter dan skillmu sesungguhnya?


Saat menghadapi kertas dan pensil tanpa gambar referensi, saat mengerjakan desain tanpa bantuan komputer, saat menulis hanya dengan khayalmu, saat internet tidak sedang terkoneksi.

Saat presentasi di depan kelas tanpa materi digenggam, saat berkomunikasi 4 mata dengan orang lain tanpa gadget, saat berdiskusi terbuka di warung-warung tanpa satu orang pun dikenal, saat bercerita dengan anak-anak tanpa buku panduan.

Saat bernyanyi tanpa iringan alat musik, saat berhitung tanpa kalkulator, saat mendapatkan teman baru tanpa jejaring sosial, saat menjadi orang asing tanpa satu pun mengenalmu.

Saat berwacana dengan teorimu sendiri, saat memotret kehidupan masyarakat tanpa kamera, saat memasak tanpa satu pun resep dan bahan sesuai, saat berkomitmen dengan orang lain tanpa diingatkan agenda, saat mengingat sebuah peristiwa kecil dan merasakann denyut nadimu bergejolak, saat benar-benar pikiran dan organmu berfungi menyeluruh.

Disanalah kamu akan temukan sejauh mana kemampuan sesungguhnya!


Yogyakarta, Januari 2017