9/27/10

Open Source Software Sebuah Solusi Tengah



































JIKA KITA TAHU KARYA KITA DIBAJAK ORANG LAIN, MARAH ADALAH SIKAP YANG LUMRAH. SAYANGNYA, DISISI LAIN, DESAINER YANG MENGUNAKAN PROGRAM BAJAKAN JUGA BUKAN SEGELINTIR. BISAKAH SOFTWARE OPEN SOURCE DIJADIKAN JALAN TENGAH? (Irwansyah-concept magz)


Situasi ini seperti melahirkan sebuah paradoks: kita tidak mau dibajak malah menggunakan karya bajakan. Berani taruhan, sebagian besar desainer yang menggunakan software bajakan punya kendala yang sama: harga software asli yang naujubilah mahalnya! Tapi tentu hal ini tidak bisa dijadikan pembenaran bagi desainer untuk terus memakai software bajakan. Lalu bagaimana solusinya? Dalam kasus ini, software berbasis open source mungkin bisa jadi jawaban.



Banyak nilai plus yang membuat open source design software menjadi pilihan. Pendiri Komunitas Blender Indonesia, Hiza Ro, berpendapat software open source bisa dijadikan solusi karena faktor ekonomis irit. “Selain itu, banyak aplikasi open source yang tidak memakan space di HD, sehingga tidak perlu menyisihkan 100MB untuk dapat dipasang di sistem. Semua file open source bisa dibuka di semua platform dan semua rilis. Jadi tidak perlu menyimpan dengan format berbeda setiap akan dibuka di tempat lain. Buat saya ini cerdas,” papar lelaki yang juga mendirikan Hizart Studio ini.

Selain Hiza, Edy Surachman, seorang animator freelancer asal Jakarta, juga menyoroti soal biaya. “Selain gratis dan bisa memotong biaya pembelian dan royalty software berbayar, sesuai dengan istilahnya, software open source bebas kita modifikasi dan diutak-atik source code-nya untuk dibuat sesuai selera dan kebutuhan kita.”

Sementara itu, seorang CONCEPT Citizen – nama keren penggemar CONCEPT di Facebook – menulis, “masak sudah susah-susah cari uang dari software tertentu yang ternyata masih bajakan akhirnya malah jadi duit haram. Nggak barokah ntar rejekinya. Masak tega juga memberi makan aniak istri dengan duit haram” Begitulah jeritan keprihatinan Pandu Aji Wirawan, Post Production dan Special Effect di Qupic Animastudio Surabaya. Komentar ini senada dengan Edy, yang berpendapat masalah legalistas dan kebebasan berkarya merupakan alasan utama, “Sayang sekali jika karya yang kita buat bagus tapi tidak bisa dipublikasikan hanya karena pekai software bajakan yang menimbulkan ketakutan tersendiri terhadap legalitas.”

HASIL TERGANTUNG USER

Menanggapi keraguan terhadap kualitas karya yang dihasilkan dengan open source, Johantri, Animator 2D di IFW Batam, berkomentar, “Seorang CG Artist berpengalaman yang menggunakan software open source atau freeware akan tetap bisa menghasilkan karya yang lebih bagus dibandingkan seorang pemula yang memiliki software berbayar yang original. Artinya, semua kembali kepada mau atau tidaknya orang belajar dan mencari pengalaman kemudian mengembangkannya. Bukan karena ia menggunakan alat mahal sehingga karyanya jadi bagus. Istilahnya, bad workman blames his tools.” Hiza pun sependapat dengan komentar ini. Seraya menambahkan bahwa jam terbang juga punya peranan. “Soal teknis saya kira bisa dikuasai dalam waktu cepat.”

Baik Hiza, Edy maupun Johan menilai selama ini klien tidak pernah ceriwis soal software yang digunakan desainer. Menurut mereka, klien kebanyakan melihat hasil, bukan prosesnya. “Mereka tidak peduli kita memakai software apa. Yang penting, pekerjaan bagus dan tepat waktu.” ujar Johan bersemangat. Untuk software, Johan menggunakan Ubuntu 9.10, Blender 3D. GIMP, Inkscape, Fspot dan UFRaw (untuk fotografi). Sementara Edy memakai Blender, Virtualdub, The GIMP, MyPaint, Sodipodi dan Inkscape. Hiza juga mengaku menggunakan Ubuntu Linux 9.10, GIMP, Photoscape, KRITA, Inkscape, MyPaint, Blender, Audacity dan LMMS (Linux Multimedia Studio-Software)

Dibajak memang menjengkelkan dan bisa membuat hati panas. Tapi menggunakan bajakan juga bukan pilihan yang bijak. Jika dompet belum cukup tebal untuk membeli software desain berbayar yang orisinal, software open source bisa jadi pilihan yang layak dijajal.

sumber: Majalah Desain Grafis CONCEPT

OSS Adalah Sebuah Jawaban




OSS telah membuka mata dunia tentang kehebatannya. Dengan OSS kita bisa mengembangkan sebuah aplikasi sesuai kebutuhan kita sendiri, baik selaku developer maupun user.
(wawancara hizaro di Majalah BISKOM)


Open Source Software (OSS) merupakan jawaban untuk mengembangkan industri di Tanah Air. Proses transfer of knowledge dari OSS pun makin udah diakses secara gratis melalui internet. Dengan OSS pula, kita bisa mendapatkan legalitas penggunaannya, biaya produksi lebih murah bahkan mungkin diharapkan mereduksi dampak pembajakan dengan hasil kreativitas yang harganya lebih terjangkau.

“Tidak menutup kemungkinan akan muncul varian-varian baru aplikasi open source yang bisa dijual, tentu ini peluang bisnis baru juga” kata Hiza Ro, pendiri komunitas game berbasis OSS, Blender Indonesia, kepada BISKOM akhir desember lalu.

Lebih jauh ia pun berharap ke depan bisa tercipta sebuah ekosistem kreatif yang berbasis OSS dan bisa dijadikan ekonomi baru, sekuranganya 5-10tahun mendatang. Hal itu bisa dimulai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dngan kurikulum cerdas berbasis OSS.

“Saya rasa ini tanggung jawab dan komitmen yang harus didukung penuh oleh pemerintah, dengan mengandeng komunitas-komunitas OSS agar semakin berkembang.” tandas Hiza.



Berikut paparan ide Hiza Ro tentang game dan animasi nasional.

Bagaimana perkembangan animasi dan game nasional sejauh ini?

Menurut saya, animasi dan game di tanah air sudah sangat pesat perkembangannya. Dari sisi bisnis investasi pun tidak mengecewakan. Terbukti dengan maraknya event-event baik online maupun offline yang selalu dipadati peserta. Peminat game yang membeludak, khususnya game online, kerap membuat publisher menambah jumblah server. Lalu muncul berbagai komunitas, forum-forum dan membanjirnya warnet khusus game 24 jam yang makin marak. Hal ini bisa menunjukkan perkembangan sebuah insdustri.

Namun hal tersebut sebagian besar baru dipandang dari segi penonton, peminat, player atau user, dan pelaku bisnis atau publisher, yang rata-rata game atau animasinya adalah hasil impor dari Korea, Jepang, Malaysia dan negara lainnya. Sedangkan pengembang atau developer lokal masih sangat minim, sehingga regenerasi jadi terhambat. Tidak banyak pilihan bagi player untuk bermain games atau menonton film animasi lokal. Iklim yang sehat, juga syarat minimal industri adalah produksi yang lebih besar dari permintaan pasar.

Apakah OSS sanggup menjadi platform yang ideal untuk membangun animasi dan game nasional?

Hemat saya, OSS adalah jawaban! Keajaiban internetlah yang mempertemukan para pengembang, pelaku, animator, kepada open source. Di komunitas seperti blenderindonesia.org atau gamedevid.org, OSS berkembang perlahan dan pasti terutama aplikasi yang terkenal seperti Blender (3D), Inkscape (Vektor), GIMP (pixel), MyPaint (painting), dan lain-lain. Game engine seperti OGRE mulai banyak diminati dan dikembangkan sesuai kebutuhan oleh beberapa developer lokal. Masing-masing sudah bisa digunakan untuk produksi sebuah film animasi atau games dengan maksimal.

Apakah keunggulan animasi dan game kita dibanding negara lain?

Bicara keunggulan animasi dan game di Indonesia saya kira banyak segi yang bisa diunggulkan. Terlepas dari kuantitas, para artist computer graphic (CG) mempunyai artistik yang sangat kental. Negara kita kaya akan etnis, alam, dan kolaborasi dari keberagaman atau heterogenitas budaya ini bisa masuk dalam visual animasi dan games. Lihat saja komik-komik lokal, game Nusantara Online (Nusol), dan berbagai hasil karya di forum-forum. Saya kira ini nilai plus dan berpotensi nuuk digali lebih dalam lagi. Kita tahu karena Indonesia adalah 'jagonya' dongeng dan cerita legenda. Di era globalisasi, ini adalah kekuatan dan sumber yang pantas diunggulkan dan diembangkan.

Apa perlu dikembangkan lagi dari kondisi yang ada sekarang?

Yang patut dicatat adalah mengubah pola pandang dari penonton, pemakai (user) menjadi pembuat atau developer, sehingga makin banyak produsen dan regenerasi yang konsisten untuk membuat pasar industri makin marak dan bisa menjadikan unttulan devisa negara seperti di Korea dan Jepang. Juga kerjasama media yang memberi pengaruh besar bagi percepatan industri animasi dan games. Dalam hal ini dukungan dan motivasi yang intens harus terus berjalan beriringan. Saya optimis, 2-5 tahun lagi kita akan berjaya di negeri sendiri jika ekosistem yang sehat mulai dibentuk dari sekarang. Terutama soal hak kekayaan intelektual. Ini berarti kekuatannya ada di open source sebagai konsep baru industri animasi dan games Tanah Air.

Apa hambatan untuk menegmbangkan animasi dan gamen nasional?

Banyak. Yang paling susah adalah perilaku dan mental pembajak yang secara tidak langsung 'didukung' oleh banyak pihak. Contohnya, masih maraknya software bajakan yang sangat murah. Selama hal tersebut masih ada, maka harga produk-produk animasi dan games menjadi rusak. Hal ini menyebabkan pelaku industri enggan berbisnis. Produk-produk bajakan tersebut seakan menjadi 'surga' bagi pemakainya. Alhasil mereka sendiri yang rugi. Perlu penanganan khusus dari pihak etrkait dalam hal ini pemerintah untuk menertibkannya.

Bagaimana halnya dengan persoalan lisensi, termasuk Hak Kekayaan Intelekutal (HaKI), apa masih ada hambatan?

Saya punya beberapa saran terutama untuk penertiban yang terkati dengan HaKI. Mungkin perlu adanya kriteria dalam mensensor produk-produk kreatif.

Tidak hanya konsentrasi dari sisi konten saja, tapi juga mulai mempertanyakan legalitas berkarya dengan penggunaan perangkat lunaknya. Dengan begitu, pelaku bisnis ini hanya ada dua pilihan: beli yang legal atau open source?

Kalau mau jujur, saya yakin bahwa kita juga tidak ingin menggunakan perangkat lunak bajakan. Namun seakan tidak ada pilihan untuk itu, dikarenakan harganya yang selangit. Nah, open source bisa menepis anggapan tersebut. Disamping free dengan kemerdekaan mendownload, mengubah atau mengembangkan, developer atau studio-studio bisa dengan nyaman berproduksi lalu tidak merasa rugi karena produksi murah dan hasil maksimal. Tidak menutup kemungkinan akan muncul varian-varian baru aplikasi open source yang bisa dijual, tentu ini peluang bisnis baru juga.

Dukungan apa yang dibutuhkan? Bagaimana perhatian pemerintah terhadap dua bagian dari industri kreatif ini?

Dalam benak saya adalah revolusi industri. Saya berpikir bagaimana industri kreatif ini tidak mati dan bisa berjaya. Daripada kita gembar-gembor untuk mengubah kebiasaan membajak itu, lebih baik kita membuat sebuah ekosistem baru dunia kreatif. Ekosistem kreatif dengan basis open source yang bisa dijadikan ekonomi baru dalam 5-10 tahun mendatang. Bisa dimulai dari SMK dengan kurikulum yang cerdas berbasis OSS. Saya rasa ini tanggung jawab dan komitmen yang harus didukung penuh oleh pemerintah, dengan menggandeng komunitas-komunitas OSS.

Perhatian ini mungkin sudah bisa dilihat dari Indonesia Go Open Source (IGOS) dan beberapa program terkait. Namun baiknya, para komunitas dan penggiat OSS tidak perlu menaruh harapan terlalu banyak, just do it dan bergerilya secara militan.

Apakah kita masih membutuhkan tenaga outsourcing untuk pengembangan OSS?

Outsourcing masih perlu untuk transfer of knowledge dan pengalaman. Namun posisinya yang harus ditukar. Jika selama ini mereka adalah tenaga ahli yang menguasai sebuah proyek, coba dibalik menjadi pengawas atau penasehat dengan pemimpin orang lokal, toh mereka dibayar untuk itu.

Namun dengan adanya internet yang makin murah, posisi outsource ini saya kita tidak telalu urgent. Kembali lagi ke OSS, proses transfer knowledge makin gampang diakses secara gratis. Tenaga-tenaga terampil kita banyak sekali menjadi pelaku. Hanya saja negara luar yang lebih memberi apresiasi. Jadi, butuh manajemen yang baik dan experiances yang lebih banyak.

Menurut Anda, apa saja 5 game terbaik serta animasi terbaik 2009 karya putra bangsa?

Game produksi lokal yang paling bagus itu menurut saya Nusantara Online, Bluberin Studio, Agate, Castle Studio, Meraih Mimpi, dan Divine Kids. Kalau animasi saya kira si Hebring.

Kira-kira apa tren game dan animasi Indonesia kedepan di tahun 2010?

Trend tahun depan adalah free games dan open movie. Freegames mulai banyak dimainkan sebagai hiburan ringan di mana saja, mulai dari PC, online games, ponsel atau bahkan Facebook seperti Mafia Wars. Sudah tidak jaman lagi sesuatu itu berbayar, semua serba gratis dan open source. Sementara open movie atau lebih dikenal dengan film gotong royong awalnya digagas oleh Blender Institute dari Belanda dengan produk software Blender yang open source. Proyek mereka (3D) Orange Movie / Elephant Dream berhasil membuka mata dunia tentang kehebatan open source. Film ini adalah film open movie pertama di dunia yang langsung menjadi standar proses pembuatan 3D Animasi yang beda dan unik.

Berturut-turut muncul proyek-proyek open movie lain Big Buck Bunny (www.bigbuckbunny.org), Apricot Games (www.yofrankie.org), Sintel/ Durian (www.durian.blender.org). Proyek lain di luar Blender adalah www.project-london.net.

Saya kira sebentar lagi konsep-konsep semacam ini akan banyak diminati di Indonesia. Walaupun perlahan, bisa jadi kekuatan-kekuatan baru semacam ini menjadi trend setter 2010.

3/8/10

12/11/09

[dot]BlendMagz02 TERBIT!



Akhirnya selesai sudah perjuangan layout [dot]BlendMags02. Magz ini memuat lebih dari 100 halaman. Mengetengahkan wawancara dengan artist Blender lokal dan international. Benjamin Bailey dan Ramdhan Dwiputra. Silakan download filenya atau baca melalui ISSUU. Selamat menikmati karya-karya hebat anak negeri dengan tools Open Source.



[dot]BlendMagz 02 PUBLISH
Terimakasih untuk para Army yang sudah dengan sabar menunggu rilisnya Magz edisi 02. Silakan download 138 Halaman full color dan menikmati karya-karya terbaik blender amry Indonesia. Publikasikan ke semua orang sebagai hadiah . Kami harapkan review dari army juga kritik dan saran tercerdas. Tanpa banyak kata, berikut link dari Magz.

File terdiri dari dua macam format, PDF dan EXE (flip magz for windows). Silakan download juga file sourcenya untuk latihan. Jangan lupa komentar ya GBU
DOWNLOAD PDF
http://www.mediafire.com/?1chntznzngz
DOWNLOAD EXE
http://magmaker.spotbit.com/main/magazine_project.php?proj=25791
SOURCE
http://blenderindonesia.org/download/magz/source/source.zip

11/20/09

Atas Nama Lomba!


Saya risih mengamati perkembangan dunia desain akhir-akhir ini. Semoga tulisan ini bisa membuat orang lebih selektif.

Seperti halnya produk makanan, desain grafis menjamur bak parasit di negeri ini. Mulai dari sekolah yang membuka jurusan desain komunikasi visual/desain grafis makin bertambah hingga agency dan jasa advertising di kota2 besar yang merekah. Tak heran industri ini makin berkembang subur dan menjadi profesi yang menggiurkan.

Fenomena ini juga di lirik oleh perusahaan dan berbagai pihak untuk memanfaatkan jasa desainer. Sebagai contoh adalah maraknya lomba-lomba desain logo, maskot, animasi, dll. Sekilas tampak mendukung perkembangan industri, namun kalo kita amati lebih detail dan teliti, bisa jadi beberapa diantaranya adalah asas manfaat. Kenapa? MAri kita simak dan kaji lebh dalam lagi.

Portofolio
Para mahasiswa dan penggemar desain serta desainer bermunculan di mana-mana. Ada yang sudah lama bermain dibidang ini sejak booming antara tahun 2000-sekarang, ada juga pemain baru yang masih cupu. Para pemain cupu inilah yang sering tidak memperhatikan motivasi di balik lomba. Salah satunya karena mereka masih sangat butuh portofolio demi meningkatkan nilai jual/self branding.

Hadiah yang sangat fantastis (kelihatannya) juga menjadi alasan orang tergiur untuk mengikuti lomba ini. Terlebih jika ada hadiah favoritnya. Seakan menjadi rayuan maut para desainer/calon desainer ini. Bahkan beberapa diantaranya mengaku tidak peduli dengan hadiah, ngikut saja.

Tipuan Cerdas
Rata-rata lomba mengharuskan pesertana mendaftar dengan uang administrasi/registrasi antara 20-100 ribu. Ini sah-sah saja. Coba kita kaji lagi seperti dengan pertimbangan uang hasil pendaftaran tersebut di kalikan kjumlah peserta yang minimal tercatat antara 50-100 orang bahkan ribuan. Berapa dana yang disilkan panitia/instansi tersebut? Wow...tentu lebih besar dari jumlah hadiah. Plus mereka mendapatkan hak penuh untuk mempublikasikan karya yang masuk dengan syarat di depan. TEntu saja menurut saya ini adalah bentuk baru penipuan. :(

Tentu anda tidak merasa dirugikan secara finansial. Toh hanya 50 ribuan keluar dari kocek. Akan tetapi coba anda nilai IDE anda! Ide yang anda gali dari perenungan, pemikiran, bertapa, dsb. Semurah itukah? Jangan salahkan panitia/lembaga tersebut jika ide-ide yang telah terkumpul tersebut tiba-tiba keluar sebagai produk baru. Mau menuntut? how? Pengalaman saya, dan sedikit asusmsi bahwa, beberapa oknum memanfaatkan peserta untuk menca(cu)ri ide dari lomba tersebut. Ini termasuk murah-meriah daripada harus memesan di agency yang nilainya jutaan/ratusan juta untuk sebuah desain.

Ssolusi?
...bersambung

solusi:
Selektif
Hitungan yg cermat
Baca Rules




11/3/09

Bersatunya Blender Indonesia




Visi dapat membuat seseorang bisa menggapai mimpi. Cepat atau lambat, sebuah mimpi bisa tercapai berkat visi yang konsisten dan jelas, Ini terbukti dari pengalaman saya ketika mendirikan Blender Indoensia ORG 3 bulan yanglalu. Waktu itu saya melihat bahwa suatu ketika komunitas Blender Indonesia bisa bersatu untuk sama-sama memerdekakan animator dali Ilegal Software. Dan memang dari Blender sendiri banyak sekali bermunculan komunitas yang berdiri sendiri sehingga cukup membingungkan orang yang ingin belajar animasi dengan Blender.

Dalam GCOS 26-27 Oktober 2009 kemarin, visi itu akhirnya terwujud. Bukan kebetulan jika para founder 3 komunitas besar Blender Indonesia berkumpul dan menyamakan visi misi dengan BERSATU demi kemajuan bersama. Saya sendiri sebagai founder Blender Indonesia sangat senang dan menerima kehadiran komunitas mereka yang memang lebih dahulu menjadi pionir. Edy Surachman [Blender-an], Adez Aulia [Blender3D Indonesia], dan Saya [hizaro], akhirnya berkumpul dan merapatkan diri untuk bersatu. Kami yakin dengan hal ini, Blender makin jaya sebagai software Open Source Aniamsi di Indonesia.
Hadir juga Adhicipta, Udey, dan Adi, menjadi saksinya :) Thanks for All Guys.

Juara




Sebuah cerita sejarah. Ya, sekaligus menandai dimulainya gerakan Open Source di dunia animasi Indonesia. Dalam GCOS 2009, 26-27 di Shangri-La Jakarta kemarin, Saya bersama komunitas Blender Indonesia mendapatkan Juara Pertama kompetisi Komunitas Open Source. Walaupun tidak pernah menyangka, namun ini suatu kejutan yang layak dirayakan bersama.

Ini bukti dari keseriusan dan konsisten. Total berkarya dan maju bergerak demi sebuah sejarah yang baik. Terimakasih Blender Army yang telah mendukung kesempatan ini. Sekaligus mari kita buktikan dengan karya-karya fenomenal lain di masa datang. GO!

Berita di Detik: